Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

SYAIR | KESAKSIAN INSAN

PUISI CINTA INTANCAHYA

KARYA : INTANCAHYA


Wahai insan ..

Akankah engkau selalu menyaksikan berapa kali debur ombak menggulung samudera?

Akankah engkau selalu menyaksikan berapa banyak butir pasir dihamparan pantai?

Akankah engkau selalu menyaksikan berapa banyak bintang yang bersinar diangkasa?


Wahai insan ..

Akankah engkau selalu menyaksikan bagaimana kehidupan semut-semut didalam lubangnya?

Akankah engkau selalu menyaksikan bagaimana kehidupan ikan-ikan kecil didasar lautan?

Akankah engkau selalu menyaksikan bagaimana bumi, Bulan, dan matahari dalam peredarannya? 


Wahai insan ..

Akankah engkau selalu menyaksikan berapa jumlah air hujan yang turun ke bumi?

Akankah engkau selalu menyaksikan seperti apa dalamnya gunung berapi dan perut bumi?

Bisakah engkau menghitung berapa jumlah setiap hembusan nafasmu, Setiap detak jantungmu dan setiap kedipan matamu dalam sehari?

Apakah engkau bisa menyaksikan semua itu disetiap saat tanpa luput sedikitpun?


Wahai insan ..

Sesungguhnya mustahil bagimu tuk menyaksikan segala yang ada di langit dan dibumi,

Disiang dan dimalam hari, Di hari lalu, Sekarang dan masa depan.

Maka sesuatu yang tidak kamu ketahui

Bukan berarti benar-benar tidak ada.


Wahai insan ..

Bila engkau tak sanggup tuk selalu bersaksi atas segala kejadian yang telah diciptaanNya ..

Maka engkau pun belum tentu sanggup bersaksi atas semua rahasia kebenaran penciptaNya ..

Jadi segenap ilmu yang didalami oleh masing-masing insan,

Hanya laksana setetes air dilautan ilmuNya.

Maka gunakan adab yang baik dalam penyampaian ilmu yang engkau pahami.

Bentangkan cakrawala hati kita 

Bilamana tiap-tiap insan berbeda dalam memaknai kebenaran.

Tidaklah pantas bagi seorang insan untuk menyombongkan diri 

Serta menghina kebenaran yang diyakini oleh insan lainnya. 

Sebab Sejatinya kebenaran hanya mutlak milik Tuhan.

Kebenaran yang terucap dari lisan seorang insan hanyalah sebatas yang ia pahami.


Wahai insan. 

Akan ada masa dimana umat manusia haus akan bukti-bukti ketuhanan.

Sedangkan bukti itu sudah terbentang jelas dijagad diri maupun jagad raya.

Namun mereka enggan mendekatkan dirinya pada Tuhan Yang Maha Mengetahui untuk mengenalNya.

Mereka justru menanyakan bukti itu pada manusia lainnya.

Lalu saling menyangkal lagi memperdebatkan.


Wahai insan.

Begitulah wayang-wayang yang digerakkan oleh Sang Dalang agar kita jadikan acuan pembelajaran.

Dunia adalah panggungnya

Insan bagai sebuah gelas dari kaca.

Yang ia ucapkan memantulkan sejatinya dirinya.

Semakin kosong semakin nyaring bunyinya.

Semakin berisi diam tak bersuara


BACA JUGA :