Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CERITA KELUARGA | IBU TIRI PEMUAS NAFSU BERSAMA | BAGIAN 2 | intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - "Ga usah bawa-bawa kemanusiaan sayang. Sudah menjadi rahasia umum perempuan, Mau menikah dengan lelaki berumur karena hartanya. Coba kalau Papaku miskin, Kamu mana mau? Oh ya cantik, Kalau kamu mau mencari penghasilan sampingan yang lebih besar. Kayaknya kamu cocok untuk menjadi pemain video dewasa Hahaha. Seperti ini." Ujar Arya sambil memutar video panas hasil hubungan biadabnya barusan.

baca juga : KISAH MISTERI PESUGIHAN TUYUL

BAGIAN 2

cerbung cerita keluarga intancahya
bagian terakhir

Mata Nilam terbelalak. Ia menggelengkan kepalanya seakan tak yakin jika Arya diam-diam memvedio adegan tersebut bergantian dengan Ragil. Nilam hendak merebutnya namun Arya justru menangkisnya lalu didoronglah Nilam menuju bag mandi. 

"Berani berontak? Aku kasih tau Papa! Kamu bisa mikir kan kalau Papa pasti lebih percaya kedua putranya daripada istri muda yang usia pernikahannya baru seumur jagung. Siri lagi!" Ancam Arya.

Kejadian laknat pun terulang lagi. Setelah itu Arya dan Ragil mengajak Nilam kesalon untuk mempercantik diri. Setelah itu dibawanya ke mall untuk berbelanja pakaian-pakaian bagus dan tas-tas mahal. Serta perhiasan. Mereka benar-benar ingin Nilam terlihat lebih cantik dan lebih menggairahkan. 

baca juga : WASPADA 3 TEMPAT PESUGIHAN YANG HARUS DI KETAHUI? AGAR ANDA TIDAK TERJERUMU

Satu bulan kemudian, Armandanu pulang. Dia melihat perubahan yang luar biasa pada Nilam. Nilam yang dulunya ialah wanita sangat sederhana kini berubah laksana artis ibukota. Gayanya modis dan modern. 

"Kami yang bawa Mama kesalon Pa. Kami ingin Mama gak kalah cantik sama ibu-ibu didaerah sini. Jadi kalau wali murid kekampus gak malu-maluin." Ujar Ragil.

"Baiklah. Papa senang kalian bisa berhubungan baik dan menganggap Mama Nilam seperti Mama kalian sendiri." Ungkap Armandanu gembira.

"Dasar bapak gak waras! Nyari istri kok yang seusia anaknya. Jadi pada doyan kan anak-anaknya kalau dikumpulin sama yang bening-bening gini!" Gumam Arya dalam hati.

Sementara Nilam menangis dalam hati, 

"Maafkan aku suamiku. Aku ingin bercerita padamu tapi aku takut keadaan malah bertambah buruk."

Namun disaat Armandanu lengah bercumbu dengan Nilam. Dikejutkan dengan banyaknya tanda merah yang ada diarea dada Nilam. Armandanu menghentikan permainannya. 

"Kenapa dengan dadamu?" Tanya Armandanu pura-pura tidak tau.

"Aku masuk angin. Aku mengeroki bagian depan karena tanganku tak sanggup mengeroki bagian belakang tubuhku." Jawab Nilam gugup.

"Istriku. Aku pria dewasa, Jangan bohongi aku! Jika memang pelayananku diusiaku tak maksimal dalam memuaskanmu. Maka aku ingin tau dengan siapa kamu menghabiskan waktu bercintamu saat aku pergi keluar kota?" Tanya Armandanu dengan lembut.

Nilam hanya bisa tertunduk, Menangis dalam bisu.

Armandanu memeluknya. Ia mengusap bulir bening yang berjatuhan dipipi mulus istrinya. 

"Ada apa? Cerita saja! Aku tidak akan marah!" Desak Armandanu mengetahui gelagat tertekan dari istrinya.

"Bunuh saja aku Mas! Aku telah dirudapaksa!  Aku wanita kotor! Huhuhu." Tangis Nilam pecah mengakui yang telah terjadi.

"Katakan! Siapa yang melakukan ini padamu Istriku?" Tanya Armandanu dengan tangan mengepal.

Armandanu paham dari gelagat Nilam bahwa Nilam terpaksa melakukan ini semua. Oleh karena itu Armandanu tidak marah pada Nilam. Akhirnya Nilam menceritakan semua yang terjadi pada Armandanu. Terlepas ia percaya atau tidak. 

Mendengar penjelasan istri tercintanya. Armandanu mengumpulkan Arya dan Ragil. Ia mencecar beberapa pertanyaan kepada kedua putranya tersebut hingga keduanya mengakui dan meminta maaf.

Plaakkk. Plaakkk.

Kedua putra telah mendapatkan bogem mentah dari sang ayah. Namun tidak dirasa. Keduanya justru mengungkit bahwasanya semua harta yang dimiliki Armandanu juga beratasnamakan mendiang ibunya. Oleh karena itu. Jika Armandanu membawa seorang wanita untuk menikmati fasilitas hartanya. 

Maka wanita itu akan menjadi milik bersama. Lagi pula Armandanu paham bahwa anak-anaknya juga membutuhkan kebutuhan biologis.

"Nilam. Hendaknya kamu makhlumi perbuatan mereka. Mereka masih muda dan belum bisa mengendalikan nafsunya. Sementara bila mereka memaksa meminta ya kamu turuti saja. Mereka masih kuliah, Aku tidak mengizinkan mereka menikah. Aku juga melarang mereka jajan sembarangan. Takut terkena penyakit kelamin menular. Jadi satu-satunya cara ya sama kamu aja dulu. Nanti kalau mereka sudah lulus dan bekerja. Aku pasti menyuruh mereka menikah dan menghentikan semua ini." Jelas Armandanu.

Hati Nilam bagai disayat sembilu. Laksana luka mengangah yang ditabur garam diatasnya. Bagaimana bisa suaminya malah menyarankan agar perzinahan dia dan anak-anak tirinya terus dilakukan. Keesokan harinya Nilam menghilang dari rumah. Meninggalkan sepenggal surat.

"Untuk suamiku. Mas Armandanu. Terimakasih sudah banyak menolongku. Namun aku sadari. Dahan akan tetap menjadi dahan. Sekalipun ia menikah dengan rembulan. Tak terjangkau mahligai ini olehku. Terimakasih pula telah memberiku anak. Entah ini anak siapa diantara kalian, Aku akan berjanji merawatnya dengan sebaik mungkin. Maaf aku tidak akan membiarkan anakku hidup bersama dirumah mewahmu itu." Sebuah tespek dengan dua garis diletakan diatas surat tersebut. 

Mengetahui hal itu, Armandanu, Arya dan Ragil pun berbondong-bondong mencari Nilam dengan panik. Masing-masing menganggap janin yang dikandung Nilam adalah buah cintanya. 

baca juga : SYAIR CINTA | BALADA LUKA

Sementara Nilam berjalan kaki menyusuri jalan. Dia beristirahat ditepi jembatan. Dilihatnya kebawah air sungai yang mengalir deras. Lama kelamaan air sungai tersebut membentuk fatamorgana dinetra Nilam. 

Seolah aliran sungai berubah menjadi tangan besar yang siap memeluk dan mengayominya. Kemudian Nilam pun mengeluarkan buku diary. Bait demi bait dia tulis tumpahan isi hatinya pada Tuhan.

"Tuhan. Lebih baik aku memulai kehidupan baru tanpa siapapun selain anak yang Engkau titipkan padaku. 

Memulai semuanya dari nol meskipun tertatih. 

Meskipun raga ini merintih kelelahan.

Dihadang kehausan dan kelaparan.

Berteman dengan kepanasan dikala siang.

Berselimut dengan kedinginan dikala malam.

Mungkin itu lebih baik. 

Daripada aku hidup diistana yang megah.

Namun hakikatnya hanyalah budak nafsu yang bertopeng ratu. 

Ibarat aku adalah boneka yang dipermainkan oleh para tuannya. 

Tuhan. Aku pernah hidup susah disaat dinikahi lelaki yang miskin harta. 

Namun nyatanya dinikahi lelaki mapan pun tak menjamin kebahagiaan. 

Sebab lelaki yang mapan itu menganggap kesuksesannya adalah Tuhannya.

Sukses ialah tuhan yang didapatkannya dengan susah payah. 

Dan orang-orang yang menemani dia dari nol adalah nabinya. 

Sehingga meskipun mereka berbuat salah tapi lelaki itu mutlak membenarkan.

Sementara istri yang baru dinikahinya tak berarti apa-apa selain menjadi alat untuk membahagiakan dirinya dan orang-orang yang menemaninya sejak dulu. 

Aku hanyalah umat pengikut, Yang harus tunduk dan menurut. 

Karena aku hadir disaat dia sudah berjaya.

Aku tak ikut menderita. 

Jadi wajar bila aku harus mengalah bersimpuh tanah.

Membiarkan orang-orang yang menemaninya dari nol menginjakku hingga ke inti bumi. 

Karena mereka sudah menemani masa susahnya. 

Jadi tiba saatnya mereka bebas menari tak peduli benar salah. 

Halal bagi mereka semena-mena pada hamba yang baru datang tinggal ikut menikmati kesuksesan.

Tuhan. Bila nestapaku membawa karma.

Maka aku ingin karma itu berubah menjadi buah cinta yang mulia. 

Tak menghantam bagai badai.

Tapi menenangkan jiwa bagai dzatMu.”


KARYA : INTANCAHYA