Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 22 | intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - Tiba-tiba Luluk berlari kabur. Marni dan para guru pun mengejarnya. Sayangnya Luluk begitu gesit sehingga sampai pada jalan raya. Tanpa melihat sekitar, 

Brruuaaakkk!

novel cerita intan cahya

CERITA BAGIAN 22

Sebuah mobil Honda jazz hendak menabrak Luluk. Beruntung penyupir berhasil membanting stir kearah pagar sehingga Luluk tidak tertabrak. Hanya mobil mengalami lecet bagian depan.

"Astaghfirullahaladzim." ujar semua orang menolong luluk dan juga ada di dalam mobil.

Beruntung tidak ada korban yang luka. Ternyata mobil tersebut dikendarai oleh Bu Eliz. Seorang psikolog dan juga guru dari Aldino, Di TPAC. Bu Elis termasuk sahabat Bu Ayu dan murid Bu halimah sewaktu sekolah dulu. Usai membawa mobilnya ke bengkel, Bu Elis mampir terlebih dahulu mampir ke TK al-anwar. 

Untuk menanyakan keadaan Luluk. Luluk tidak apa-apa. Namun Bu Elis menemui sedikit keganjalan cari wajah Luluk, Sikap-sikapnya, serta keluhan-keluhan yang diceritakan oleh Marni dan Mbok Nah. Bu Elis bagaimana trik membuat luluk lebih tenang. 

Iya juga meminta kesempatan kepada Marni dan Bu Halimah untuk mengadakan sejumlah tes khusus bagi Luluk. Setelah melakukan tes, dugaan bu Elis benar. Luluk termasuk dalam golongan Anak Berkebutuhan Khusus. Ia segera menjelaskan hal tersebut pada Bu Halimah dan Marni,

"Berdasarkan tes yang saya adakan untuk Ananda Luluk, Ananda Luluk termasuk dalam anak istimewa. Yang memiliki kebutuhan khusus."

"Anak istimewa apaan Bu, Anak bandel gitu gak ada istimewa-istimewanya. Masih istimewa juga martabak!" Celoteh Marni.

Bu Eliz tersenyum, Kembali menjelaskan.

"Anak istimewa maksud saya anak berkebutuhan khusus, Lain daripada yang lain. Ananda Luluk masuk dalam jenis Down Syndrom face yang merujuk pada tuna grahita. Artinya dia memiliki kemampuan intelektual dibawah rata-rata. Saya sarankan Ananda Luluk tidak bersekolah disini dulu."

Marni pun memotong pembicaraan Bu Eliz,

"Loh. Lah sekolah dimana Bu? Ini saja udah habis sejuta buat beli seragam dan SPP kemarin."

Bu Halimah menggelengkan kepalanya. Seakan malu dengan lisan Marni.

"Sabar Bu. Demi kebaikan anak insyaallah ada saja rezeki dari Allah. Saya sarankan Ananda Luluk mengikuti terapi ABK di TPA milik saya." Ujar Bu Halimah.

"Berapa Bu?" Tanya Marni

"Berapa apanya sih Bu?" Tanya Bu Halimah balik.

"Yah, Berapa harganya lah Bu! Kemarin saya udah habis banyak Nih buat masukin Luluk TK!" Jawab Marni ketus.

Bu Halimah tak membalas. Ia hanya mengelus dada sembari menghela nafas panjang. Namun masih salah dimata Marni.

"Tau lah Bu. Saya udah miskin, Dikasih anak begitu. Ibu belum pernah ngerasain sih. Wajarlah saya tanya harga. Orang saya cari uang susahnya minta ampun!" Gerutu Marni.

"Sudah. Sudah. Baiklah saya jawab ya Ibu Marni. Biayanya gak mahal kok kalau buat Ibu, Hanya lima puluh ribu per kehadiran." Potong Bu Eliz secara halus.

Marni pun terkejut,

"Hahh? Apa limapuluh ribu? Mahal sekali! Gaji saya seharri saja tidak sampai segitu Buk!

"Yah. Proses belajarnya gak setiap hari. Paling dalam seminggu ya cuma tiga kali pertemuan." Jelas Bu Eliz.

"Yee! Sama ajalah. Lima puluh kali tiga kali berarti seratus lima puluh perminggu. Kalau satu bulan berarti enamratus ribu! Masih aja mahal! Yaudah saya gak mau Bu! Mahal sekali. Gak ada yang gratis dari pemerintah apa?" Cerocos Marni.

"Kalaupun ada ya nggak disini Bu!" Jawab Ibu Halimah tegas.

"Sudah ah! Anak saya juga tidak cacat, Tidak bisu, Tidak Buta dan tidak tuli. Biarin saja sekolah sini! Kemarin sudah diterima dan saya sudah mau bayar, Sekarang malah disaranin lain lagi!" Protes Marni.

"Maaf, Tidak ada yang memaksa. Kalaupun tidak mau pindah juga tidak apa-apa." Ucap Bu Eliz.

"Ya sudah, Sampai disini dulu pertemuan kita. Kita lanjutkan aktivitas kita masing-masing." Tukas Bu Halimah. 

"Iya Bu. Saya juga telat kerja nih. Buat ibu, Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ulah putri saya mobil Ibu jadi rusak. Nanti biaya kerusakannya saya ganti ya Bu. Tapi saya nyicil kalau gajian." Kata Marni memelas.

"Tidak usah Bu. Lagi pula siapa yang ingin musibah kecil ini terjadi. Semua terjadi karena ridho Allah. Beruntung antara saya dan putri ibuk tidak apa-apa." Balas Bu Eliz.

"Ah jangan begitu lah Bu. Saya jadi tidak enak. Mau ya buk saya cicil, Ini sekarang cuma ada tujuh puluhribu." Desak Marni sembari membuka dompetnya.

Namun Bu Eliz mengehentikan dan berkata,

"Sudah Bu, Jangan. Cuma satu permintaan saya." 

"Apa Bu?" Marni penasaran.

Bu Eliz memberi syarat,

"Bila nanti Ibu menemui kesulitan dalam membimbing Ananda Luluk, Ibu bisa hubungi saya. Tolong Bu! Berikan yang terbaik buat dia. Bagaimanapun kondisinya anak itu titipan Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan cara kita memperlakukannya."

"Ohh. Iya Bu. Iya. Beres." Jawab Marni singkat.

"Cuiihh. Belum tau rasanya punya anak kayak Luluk sok jadi pahlawan! Kalau tau bisa stres Lu." Gerutu Marni dalam hati.

Tatkala sore hari tiba. Diffarina mengelus perutnya yang kian membesar. Usia kandungannya memasuki lima bulan. Ia sudah sangat keberatan merawat Aldino yang begitu hiperaktif.  Untungnya para pekerja yang lain dengan penuh kasih sayang turut serta merawat Aldino.

"Kamu tidak usah capek-capek ya sayang. Istirahat yang cukup ya! Aldino sudah dirawat para art disini. Aku menaikkan gaji mereka dua kali lipat." Ujar Edwin sembari membelai rambut Diffarina.

"Oh ya? Bukan masalah gajinya sih Pi. Tapi mereka gak kecapekan kalau tugasnya nambah?" Tanya Diffarina.

"Udah aku tanya begitu. Katanya tidak Mi. Malah mereka merasa kurang kerjaan kalau hanya memasak dan mencuci piring. Soalnya tim kebersihan rumah dan taman kan ada sendiri dari kita. Jadi sambil merawat Aldino mereka mengaku lebih senang dan terhibur." Jelas Edwin.

"Itu pula, Tuminah lincah sekali mengimbangi tingkah Aldino. Katanya lumayan sambil latihan ngemong anak. Hehehe." Lanjutnya.

"Hehehe. Mashaallah mereka jujur sekali. Sampai tidak ingin terlalu santai karena kita gaji." Ucap Diffarina yang mengagetkan Edwin.

Kata jujur rupanya membuat Edwin tersenyum masam mengingat dalam pekerjaannya dia tak pernah jujur terhadap kliennya.

Tringgg. Triing.

"Mas. Katanya mau ngajak aku ngobrol empat mata diluar? Kapan? Sekarang?"

Sebuah pesan WA masuk diponsel Edwin dari dr Cantika.

"Ada pesan dari siapa?" Tanya Diffarina.

Edwin langsung menghapus pesan itu dan berbohong,

"Ada klien ingin ketemu Mi, Tidak apa-apa kan aku tinggal?"

baca juga 


Bersambung ke CERITA SELANJUTNYA