Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH MISTERI BERCINTA DENGAN GENDERUWO BERUJUNG KAYA RAYA - intancahya.com

CERITA MISTIK - Panas matahari membakar bumi. Maemunah dan keenam anak-anaknya berjalan dipinggir trotoar tanpa alas kaki. Mereka sudah terbiasa dalam keadaan yang serba sulit. Bahkan untuk membeli alas kaki pun harus berpikir ulang, Mengingat untuk makan sehari-hari pun tak tentu. 

"Mak, Azam haus banget. Air minum kita sudah abis." Ujar Azam putra ke empat Maemunah.

Maemunah menoleh kekanan dan kekiri, Akhirnya dia melihat masjid. Dia berkata kepada anak-anaknya,

"Nah, Anak-anakku, Mari kita mampir dimasjid sana! Ditempat wudhunya ada air jernih yang bisa kita minum."

Mereka bersemangat menuju tempat wudhu, Lalu menyalakan kran air dan diteguklah air mentah yang mengalir dalam kran tersebut.

Ketua marbot sepulang dari sholat melihat ibu dan anak-anaknya berpakaian compang-camping tersebut dengan bergidik. Dia mengamati betul-betul gerak-gerik mereka. Curiga kalau Maemunah dan anak-anaknya hendak mencuri kotak amal. Sejenak Maemunah beristirahat, Sementara anak-anaknya bermain ria dan bercanda tawa. Pak Marbot pun menghampiri Maimunah dan menegur,

"Mohon maaf Bu, Masjid itu tempat suci. Kenapa menginjak kaki disini tanpa alas kaki? Najis Bu! Masjid itu tempat ibadah. Bukan tempat tidur. Jadi kalau ibu datang kesini tidak untuk sholat, Lebih baik Ibu pergi dan jangan biarkan anak-anak bikin gaduh dan mengotori masjid!"

Maimunah gelagapan terbangun dari rebahan.

"Maaf Pak, Saya cuma mau istirahat sebentar. Kasian anak-anak saya dari tadi pagi saya ajak berjalan tanpa arah dan tujuan. Jujur, Saya habis diusir dari kontrakan kami karena telat membayar lima bulan jadi..."

"Jadi apa? Mau minta sumbangan begitu? Sudahlah Abah, Sekarang banyak pengemis berkedok meminta belas kasihan supaya dibantu banyak. Tapi gak taunya dia udah kaya dari hasil ngemis." Bisik seorang wanita yang merupakan istri Pak Marbot. 

Namun bisikan itu terdengar oleh Maemunah. Maemunah dengan sadar diri mengajak anak-anaknya pergi meninggalkan masjid tersebut.

BACA JUGA : KISAH MISTERI ARWAH KORBAN BEGAL MENCARI KEADILAN

KISAH MISTERI intancahya.com
KISAH MISTERI BERCINTA  DENGAN GENDERUWO BERUJUNG KAYA RAYA - intancahya.com


Hari menjelang sore, Maemunah dan anak-anaknya hanya bisa mengisi perut dengan menyantap mangga-mangga mentah yang berjatuhan dijalan. Sayangnya, Begitu malam tiba. Hujan turun dengan sangat deras. Maemunah tidak menemukan tempat berteduh. Rumah penduduk disekitar sana berpagar besi semua dan dikunci rapat oleh pemiliknya. Sehingga mereka terpaksa harus berteduh dirumah kosong.

"Mamak, Titin takut." Ujar Titin, Putri Maemunah yang berusia tujuh sambil memeluk Maemunah.

"Takut apa atuh Neng? Dah tidak ada apa-apa." Tenang Maemunah.

"Mak, Gak ada tempat lain apa? Azam merinding nih. Udah gelap, Kotor sekali." Timpal Azam.

"Heh udahlah nikmati saja daripada diluar bisa mati Kedinginan. Lagipula kita sudah terbiasa hidup sudah dan tinggal ditempat yang kotor." Bantah Tutut, Anak perempuan Maemunah yang nomor dua.

Sebuah rumah kosong yang sudah ada sejak tahun 1950. Sebenarnya bangunannya cukup kuat dan megah pada masanya. Namun seluruh pemilik rumah mati diusia muda satu persatu karena perjanjian pesugihan. Hingga pada akhirnya rumah kosong tersebut tampak angker, Dindingnya ditumbuhi tumbuh-tumbuhan liar yang menjalar, Lantainya berdebu tebal. Serta terdengar suara-suara aneh oleh orang-orang yang pernah lewat disana. Tak sedikit pula yang melihat penampakan makhluk halus ditempat itu.

Maemunah memandangi keenam buah hatinya yang masih kecil dengan mata berkaca-kaca. Dalam hatinya sangat merindukan suaminya yang sudah lama merantau kepulau sebrang. Namun sudah dua tahun tidak ada kabar.

Disaat semua buah hatinya terlelap. Tiba-tiba Maemunah melihat sosok suaminya didepannya. Pria itu tersenyum, Seakan tak percaya akan kehadirannya. Maemunah pun langsung merobohkan tubuh idealnya kepelukan suaminya.

"Akang? Ini kau kah Akang? Kapan kau balik Kang? Kok tau kamu kalau aku dan anak-anaknmu disini?" Tangis Maemunah pecah.

"Tadi pagi Dek. Jelas Akang tau. Zaman sudah canggih, Akang bisa melacak keberadaan kamu." Jawabannya penuh kebohongan. 

Maemunah yang tidak tahu sama sekali tentang teknologi pun mempercayainya. Tanpa basa-basi Cecep menuntun Maemunah kesebuah kamar dan mereka pun melakukan hubungan suami istri. Setelah itu Cecep memberikan uang tunai sebesar dua puluh juta pada Maemunah. Maemunah pun terharu, Seumur hidup belum pernah memegang uang sebesar itu.

"Itu uang hasil kerja kerasku. Silahkan gunakan untuk mengontrak rumah yang layak, Untuk makan sehari-hari. Udah dulu yak, Akang balik kerja lagi." Kata Cecep sembari berjalan kencang.

"Tunggu Kang! Kenapa buru-buru pergi lagi? Apa kamu tidak ingin menyapa anak-anakmu dulu?" Tanya Maemunah mengejar Cecep.

Sayangnya, Baru sampai depan. Cecep sudah menghilangkan jejaknya. Maemunah mulai bingung, Dia tak melihat satu kedaraan pun. Namun dia begitu senang mendapat uang banyak.

Keesokan harinya, Dia menggunakan uang tersebut untuk mendapatkan tempat rumah kontrakan yang lebih bagus dan layak. Membeli sarapan, Pakaian-pakaian yang layak, Serta beberapa peralatan rumah tangga.

Malam hari tiba, Maemunah didatangi suaminya lagi. Meminta hubungan badan lagi, Kemudian memberi uang sebesar sepuluh juta rupiah. Lalu pergi sebelum anak-anak bangun. Cecep meminta agar tidak menceritakan tentangnya kepada siapapun termasuk ke anak-anak. Maemunah pun menyetujui. Kejadian tersebut berlaku hingga tujuh purnama. Akhirnya ekonomi keluarga Maemunah meningkat drastis. Bahkan sudah bisa membeli rumah sendiri. Anak-anaknya kembali bersekolah. Maemunah pun membeli iPhone. Dia mulai belajar bersosial media. Sayangnya banyak tetangga yang menggosip bahwa dirumah Maemunah kerap tampak genderuwo jika malam tiba.

"Akang, Adek boleh tau nama FB Akang?" Tanya Maemunah pada Cecep.

"Akang gak punya HP, Eh maksudnya HP Akang ilang tadi." Jawab Cecep gugup.

"Kok bisa sih Kang? Tapi kan apal nama FB dong Kang, Ayo kasih tau napa Kang! Adek jadi curiga kalau Akang gak ngasih tau!" Ucap Maemunah cemberut.

Tiba-tiba putri kecil Maemunah membuka pintu tanpa mengetuk atau salam terlebih dahulu.

"Aaaaaaaaa hantu .., Hantu ..., Mak, Menjauh dari hantu itu Mak!" Teriak Dini, Putri Maemunah yang masih berusia tiga tahun sambil menunjuk Cecep.

Dini melihat sosok Cecep sebagai sosok genderuwo, Yang bertubuh tinggi, Besar, Bulu lebat disekujur tubuh, Serta taring digiginya. Teriakan bocah tersebut mengakibatkan saudara-saudaranya berhamburan keluar. Maemunah datang memberi pelukan,

"Mana hantu Nak? Itu bapakmu. Haha, Lihat Kang. Anak kita sampai lupa sama wajah kamu. Maklum, Kamu meninggalkan kami saat usianya masih delapan bulan." 

"Bukan Mak! Itu bukan manusia! Itu hantu. Gak mungkin Dini punya bapak hantu genderuwo gitu! Huhuhuuuuhuuuuuu."

Para anak-anak yang lain tak melihat adanya genderuwo yang dimaksud Dini. Mereka juga tak melihat sosok bapak yang dimaksud Maemunah. Tiba-tiba muncul asap hitam dan sosok tersebut menghilang. Maemunah mencari dimana pria yang diyakininya sebagai Cecep itu. Disekitar tempat ia berdiri tadi pun tidak ada. Padahal tidak ada jendela disana. Lewat pintu pun tidak mungkin karena area pintu dipenuhi anak-anaknya. Bulu kuduknya pun merinding. Maemunah pun langsung tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, Dia mendapat panggilan video call wa dari Pak Dadang, Teman Cecep merantau. Dilayar tampak Cecep masih berada diperantauan. Dia meminta maaf karena tidak ada kabar selama dua tahun. Dia dituduh mencuri dan akhirnya dipenjara selama dua tahun. Cecep meminta agar kawan-kawannya tidak memberitau perihal tersebut kepada istrinya. Takutnya malah jadi pikiran. Hari ini Cecep bebas. Rencananya minggu depan dia mau pulang serta meminta Maemunah menjemputnya dipelabuhan. Kawan-kawannya juga memberi tahu bahwa nasib Maemunah telah berubah menjadi lebih baik. Maemunah termenung,

"Kunci sebuah hubungan jarak jauh adalah saling percaya dan terbuka. Karena hidup penuh misteri yang tak terduga. Semoga akang mempercayai apa yang telah menimpaku. Untuk urusan berbagi rezeki terkadang makhluk dari dunia lain lebih punya nurani." Katanya lirih.


KARYA : INTAN CAHYA