Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CERITA KELUARGA | DINDA TRAGEDI KERETA SENJA 1981 Bagian 4

CERITA SEBELUMNYA - Plak. Plak. Plak.

"Penghianat!" Teriak Dinda sambil menampar wajah Ainun. 

Sementara aku segera merangkulnya, Ainun tampak merunduk pasrah akan kemarahan Dinda.

ESAI CERITA INTANCAHYA


intancahya.com bagian 4

"Hentikan Dinda! Hentikan!" Teriakku sembari memeluk tubuh Dinda.

"Untuk apa kau menghentikanku Mas? Untuk membela wanita gatal ini? Huh kukira sahabat ternyata penghianat! Juiihh!" Dinda meludahi Ainun.

"Cukup Dinda! Cukup! Jangan kau menghina Ainun hanya karena kau cemburu buta! Ingat baiknya! Ingat bagaimana dia telah menyelamatkan kamu dan aku saat kita hampir mati ditengah hutan! Tanpa Ainun, Mungkin tidak ada yang memberitahu keluargamu, Mungkin kamu tak mendapatkan pertolongan dan mati ditengah hutan!" Bentakku panjang pada Dinda.

"Mas.." Dinda menatapku nanar.

Seakan terkejut dengan bentakanku padanya.

Sontak dia mengemasi barang-barangnya dan berlari pergi.

"Tunggu penjelasanku dulu Dinda! Kamu salah paham sayang. Jangan seperti ini! Kamu mau pergi kemana?" Aku pun mulai panik.

"Biar aku kembali pada orangtuaku! Selama ini aku tanpa ragu menentang orangtua demi bisa hidup sama kamu! Tapi kamu justru bimbang hanya karena cinta seorang sahabat!" Jawabnya.

Ainun dengan kaki yang masih terpincang menghampiri Dinda serta memegang tangan Dinda, Ia berkata

"Dinda! Jangan seperti ini. Aku tidak bermaksud ingin merebut ...."

Brruaaakk. Dinda mendorong Ainun hingga tersungkur ketanga.

"Dindaa!" Teriakku sembari mengejarnya namun tak dihiraukan.

Dinda segera naik taksi untuk pergi. Sementara aku putuskan untuk segera menolong Ainun yang kakinya makin sakit.

Malam hari pun tiba. Hatiku merasa sangat tidak enak. Alam jua tidak sedang bersahabat. Hujan deras beserta angin kencang melanda. Setelah memastikan kondisi Ainun baik-baik saja. Ingin rasanya aku menyusul Dinda. Walaupun dia sudah pergi lima jam yang lalu. 

Rasa was-wasku semakin menjadi, Hujan dan angin bergulat sehingga menciptakan kabut yang dingin menusuk relung tubuh. Aku menunggu dijalan. Tak ada satupun kendaraan muncul. Hingga aku terdidur dihalte depan rumahku.

Tepat pukul enam pagi. Ainun datang membangunkanku dengan tergopoh. 

"Cepat susul Dinda! Aku mendapatkan berita ini dikoran." Pinta Ainun sembari menyodorkan isi berita koran pagi.

"Biasanya Dinda menaiki kereta tersebut saat dari Jakarta ke Yogyakarta." Lanjutnya


Berita tersebut berisi,

" Tabrakan Maut Kereta Api Terjadi Antara KA Senja IV dan KA Maja.

Kamis, 22 Januari 1981

Hujan deras disertai angin kencang dan petir yang bergemuruh mengguyur Kabupaten Banyumas sejak Selasa petang. 

Menyebabkan kepala Stasiun Kebasen masih terjaga.

Kepala stasiun itu menerima informasi bahwa KA Senja IV (jurusan Jakarta - Yogyakarta) meninggalkan Stasiun Purwokerto dan telah melintasi stasiun kecil Notog, Letaknya sekitar 7 KM di utara Kebasen. 

Sementara itu dari arah berlawanan juga diterima informasi bahwa KA Maja (jurusan Madiun - Jakarta) telah melintasi Kroya. Seperti biasa, Kedua kereta memang melintas di jalur persilangan diKebasen. Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di stasiun ini segera memasang sinyal agar KA Maja berhenti. Sebab yang terjadwal melintas terlebih dulu adalah KA Senja IV.

Namun KA Maja tetap melaju. Upaya pemberhentian pun dilakukan oleh PPKA dengan lampu batre sambil berteriak-teriak.

Namun upaya tersebut tak membuahkan hasil.

Dengan cepat KA Senja telah melintasi terowongan Kalijarut. Tapi Gunung Payung. Sementara KA MAJA telah melintasi jembatan sungai Serayu. Jarak keduanya semakin dekat. Tak terlihat oleh bebukitan juga jalanan yang berlika-liku. 

Akhirnya, Kedua lokomotif dengan nomor CC20133 dan CC20135 tersebut bertabrakan tepat diwilayah Dukuh Wadastumpang, Desa Kaliwangi, Kecamatan Tambaknegara, Kabupaten Banyumas. Ditepi sungai Sirayu.

Menurut keterangan para warga. Ledakan terjadi laksana gunung berapi meletus. Getaran pun begitu terasa hingga membangunkan para warga dari tidurnya. Begitu mengetahui bahwa terjadi tabrakan kereta api. Mereka berbondong-bondong menolong tak peduli hujan deras dan angin kencang menerpa.

Dalam kecelakaan ini, Sebanyak tujuh orang meninggal dunia. Dan 35 orang mengalami luka parah. Korban dibawa ke Puskesmas Rawalo, Kemudian dibawa ke RSU Purwokerto.

Degg. Hatiku bergemuruh tak menentu. Bagaimana jika Dinda ialah salah satu korbannya. Selang beberapa menit. Bibi Anggraini datang kerumah.

"Gung! Kamu yang sabar ya." Ucapnya lirih.

"Ada apa Bi? Ada apa? Apa Bibi melihat Dinda?"

Airmata Bibi Anggraini tumpah. Ia menganggukkan kepalanya lalu bercerita,

"Kemarin malam Dinda kerumahku, Ia bilang kalau sedang ada masalah sama kamu. Tapi dia hanya bisa menceritakan masalah ini sama Ibundanya. Lalu aku mengizinkan dia pulang. Dan aku mengantarnya ke stasiun Gambir. Kemudian dia naik kereta api Senja. Kemudian pagi ini aku mendengar berita diradio bahwa Kereta Senja yang dinaiki Dinda mengalami tabrakan di Banyumas. Huhuhuu.." Jelasnya tak kuasa menahan tangis.

"Bi, Ayo antarkan aku kesana Bi. Aku ingin segera bertemu Dinda Bi. Aku tidak ingin Dinda kenapa-kenapa." Rengekku pada Bibi Anggraini.

"Iya. Kita kesana sekarang. Kita ke Rumah sakit umum Purwokerto." Ujar Bi Anggraini.

Aku pun berpacu dengan waktu yang terasa begitu cepat. Ingin rasanya kuhentikan waktu kemarin. Agar Dinda tak pergi kemana-mana. Namun semua terlambat. Disepanjang jalan menuju Purwokerto bayangan Dinda terus menerus terukir.

Setiba disana, Bibi Anggraini menuntunku ke ruang informasi rumah sakit. Hancur sudah hatiku berkeping-keping hingga tak terbilang. Saat ku mendengar bahwa korban bernama Dinda Anjar Pratiwi ditemukan tewas. 

Seakan langit runtuh, Matahari pun ikut terjatuh membakar bumi. Sungguh aku dalam kehancuran yang tak bertepi mengingat tentang Dinda.

Dikamar mayat, Kupeluk erat Dinda walau hanya tinggal raga yang tak bernyawa. Aku mencium seluruh bagian istriku. Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sembari berbisik,

"Maafkan suamimu ini."

Aku tak sanggup menangis menjerit-jerit lagi. Hanya rasa sesak yang menindih dadaku, Pandangan mataku berlalu kabur. Seluruh otot-ototku melemah. Bahkan aku tak sanggup menyangga tubuhku sendiri.

Lantas dalam ketidaksadaraanku, Aku bermimpi bertemu Dinda. Dia memakai baju serba putih. Dia membawa baju yang ia kenakan dalam kecelakaan. Ia menunjuk saku dibaju tersebut. Kemudian aku hendak meraih Dinda dalam pelukanku. Namun Dinda menghindar, Aku mengejar, Namun dia tetap menghindar hingga Dinda pun terbang tertutup awan.

"Dindaaa ...," Teriakku hingga terbangun.

Paska jasadnya dimandikan, Aku mencari baju yang Dinda pakai dalam kecelakaan. Didalam sakunya kumenemukan selembar kertas yang berisi tulisan,


Kereta senja bawalah daku pulang. 

Aku laksana daun kering yang tertiup angin.

Sebab mahligai cintaku telah hilang ditelan gelapnya malam.

Harapanku telah hangus laksana percikan api yang dilahap derasnya hujan.


Kereta senja kuingin bercerita.

Rembulan malam yang dulu dipuja karena segenap kecantikan.

Kini sirna tertutup awan hitam.

Alunan seruling merdu disetiap senja.

Kini berganti dengan suara menggelegar halilintar.

Kereta senja biarlah aku bersandar disini

Meski dingin menusuk relung hati.

Membekukan dinding jiwaku.

Sebab tragedi demi tragedi yang mengahantui.

Aku titipkan sepenggal syair tak berarti ini dalam peristiwamu.


Kereta senja,Bila hari ini adalah hari terakhirku.

Maka aku dalam perjuangan terakhir .

Yaitu perjuangan melupakan orang yang teramat kucintai.

Sebab aku tidak lagi memberikan dia kebahagiaan.

Sebagaimana kebahagiaan yang ia harapkan.

Meskipun aku tau,

Bahwa hari ini akan menjadi awal titik rindu yang tak bertepi


baca juga : 

 

T A M A T