Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CERITA KELUARGA | DINDA TRAGEDI KERETA SENJA 1981 Bagian 2 | intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - "Berhenti! Pernikahan ini tidak dilanjutkan. Huhuhu." Teriak Dinda menangis histeris memotong berlangsungnya akad pernikahan yang lengah diucapkan seorang pria disampingnya.


CERITA NYATA KELUARGA INTANCAHYA


CERITA KEEHIDUPAN - BAGIAN 2 - Gadis cantik itu berlari menuju aku yang mengintip dibalik pintu. Ia tak memperdulikan banyak orang yang terheran melihatnya.

"Dinda apa yang kau lakukan Nak?" Tanya Pak Jumali dengan panik.

"Siapa dia Nak?" Ibu Taruni selaku ibu kandung Dinda menatapku tajam.

"Sebelumnya Dinda mohon maaf sebesar-besarnya pada Ayahanda. Tapi Dinda harus jujur demi kebaikan kami semua. Dia Mas Agung, Kekasih Dinda. Dinda dan Mas Agung saling mencintai. Tapi ayahanda justru memaksa Dinda tuk menikah dengan Mas Pradipta. Dinda tidak sanggup menikah tanpa cinta Yah. Semua itu hanya membuat kami menderita.!" Jelas Dinda dengan airmata berlinang.

BACA JUGA : cerita misteri hancurnya wajah wanita karena susuk kecantikan

Pryaaanggg.

Sebuah vas bunga melayang mengenai wajah Dinda sontak pecah berkeping-keping kelantai. Seketika darah bercucuran dari dahi Dinda.

Wajah Pak Jumali merah padam menahan malu.

"Beraninya kamu mempermalukan kami hanya demi anak lampoar itu!" Bentaknya sembari menunjukku sebagai anak lampoar.

Laksana kiamat. Kata anak lampoar kembali terucap untukku. Aku tau aku anak yang dilahirkan tanpa ikatan pernikahan. Tapi bukan berarti orang bebas menghinaku anak lampoar. Apalagi dengan lantang didepan banyak orang. Namun aku juga tidak pernah menyangka bahwa keputusan Dinda untuk membatalkan perjodohan ini cukup berani

"Pak Jumali? Bagaimana ini? Hah ya sudahlah. Tidak guna pernikahan ini! Anda benar-benar membuat kami sekeluarga malu. Kami semua pergi dari sini!" Ujar Pak Rajasa sembari pergi diikuti Pradipta dan rombongan pengiring.

baca juga : syair cinta sang kekasih

"Tunggu Pak! Tunggu! Maafkan saya Pak! Saya akan memperbaikinya semuanya!"

Pak Rajasa pun menepis tangan Pak Jumali dengan kasar. Ia berkata,

"Tak ada yang perlu diperbaiki diantara kita! Nasi sudah menjadi bubur! Hubungan persahabatan dan kongsi perdagangan kita putus! Urus saja anakmu sendiri!

"Dasar anak lampoar! Merusak kebahagiaan orang saja!" Hina orang-orang disekitar.

Sepeninggal rombongan Pak Rajasa. Keluarga Pak Jumali menghakimiku ramai-ramai. Pukulan demi pukulan menghancurkan wajahku. Tendangan demi tendangan mengoyak seluruh tubuhku. Sakit lahir batin memekikku. Darah segar membasahi seluruh tubuh. 

Didoronglah Dinda kearahku hingga kami berdua roboh ditempat.

"Hari ini saya Jumali Bin Hariyono menyatakan untuk melepas hubunganku dengan kau! Dinda Anjar Pratiwi. Putus hubungan orangtua dan anak diantara kita! Pergilah! Kami semua menganggapmu sudah mati! Ikutlah bersama anak lampoar ini keneraka!" Kutuk Pak Jumali.

Ibu Taruni selaku ibu yang melahirkan Dinda menangis kencang serta membantah ucapan Pak Rajasa,

"Cukup Mas! Jangan pernah kamu bilang seperti itu! Bagaimanapun Dinda itu putrimu, Darah dagingmu! Selamanya akan menjadi anakmu! Jangan pernah berikrar seperti itu Mas! Cabut ucapanmu! Aku mohon!"

"Diam Teruni! Ini akibat kau yang terlalu memanjakannya! Akhirnya dia tumbuh menjadi gadis tak beradhab. Aku menerima perjodohan ini juga demi kebaikannya. Demi kebaikan kesejahteraan ekonomi perdagangan keluarga ini! Diam saja kau! Lebih baik kau belajar banyak dari Ranti bagaimana cara mendidik anak!" Bantah Pak Jumali balik.

baca juga : pria, 5 cara memilih pasangan hidup yang tepat

Kulihat dengan jelas Bu Ranti, Istri kedua Pak Jumali nampak tersenyum licik. Namun ia segera kembali menampakkan raut muka sedih kala semua orang menatapnya.

Mereka pun menyeret aku dan jua Dinda ketepi hutan. Kudengar tangisan Dinda meraung-raung. Kumelihat Ainun berlari sembari berteriak agar mereka menghentikan penyiksaan ini. Namun sayang, Ia tidak cukup kuat untuk menghentikan kekuatan para pria dewasa tersebut.

"Sudah berhenti disini!" Seru jongos Pak Jumali yang diikuti mereka.

baca juga : novel anak berkebutuhan khusus 14

Kemudian mereka melempar kami laksana melempar sampah dan mereka pun berlalu pergi. Aku sudah terbiasa dilempar bagai sampah kehidupan. Tapi bagaimana dengan gadis jelita bagai putri Raja. Kini harus terbuang hanya karena memperjuangkan cintanya denganku. Padahal akupun belum tentu bisa memberinya kebahagiaan. Sungguh aku tidak tega. Aku segera memeluknya, Tangisnya pecah memanggil sosok ibunya.

"Dinda .., Agung ..," Teriak Ainun.

Dia berlari menghampiri kami. Memeluk Dinda erat.

"Ainun.. Ibunda. Bahkan aku belum sempat memeluk ibundaku sebelum aku dibuang begini." Keluh Dinda yang menyesakkan.

"Aku sudah bilang padamu Dinda. Kamu harus hati-hati sama Bu Ranti. Dia itu licik sekali. Dia kan yang menyuruhmu membatalkan pernikahan tadi didepan semua orang?" Cecar Dinda.

Dinda mengangguk,

"Memang aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan tadi terjadi Nun." 

"Tapi kan ada cara yang lebih baik Dinda. Harusnya kamu terus terang kepada ...."

Duuuaarrrr. Suara senjata api menggelegar, Peluru nyaris mengenai kearah kami bertiga. Sontak Dinda dan Ainun menjerit ketakutan.

Bersambung ke cerita selanjutnya klik disini