Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CERITA KELUARGA | DINDA TRAGEDI KERETA SENJA 1981 Bagian 1 | intancahya.com

 

CERITA CINTA ESAI INTANCAHYA

ESAI - Kutiup seruling bambu digubuk pematang sawah. Sembari menatap senja jingga berkilau emas. Angin sepoi-sepoi membelai lembut setiap dedaunan. Merdunya suara serulingku memikat telinga pendengar untuk berdatangan menyaksikan. 

Begitulah hiburan usang yang bisa kuciptakan didesa pelosok ini. Kulihat Dindaku ikut berjalan mendatangiku. Rambutnya panjang ikal terurai. Kulit kuning langsatnya makin bercahaya berpadu dengan sinar matahari sore. 

BACA JUGA : CERITA HOROR DERITA JURAGAN PESUGIHAN TUYUL

Hadirnya mengalihkan duniaku seketika. Dinda Anjar Pratiwi, Ialah nama lengkapnya. Dalam netraku, Dia bidadari yang tersembunyi dibalik keramaian dunia. Wajah ayu, Sikap sederhana dan bersahaja membuat bunga desa itu menjadi idaman para pemuda.

"Prok.. Prok.. Prok.." Suara tepuk tangan penonton begitu meriah.

Kulihat Dindaku ikut antusias bertepuktangan, Diiringi senyuman manisnya yang merekah. Matanya berbinar-binar menatapku. Kala kujatuhkan pandangan balik. Ia justru menunduk malu. Oh Dinda, Adakah yang lebih indah didunia ini selain dicintai olehmu.

Perlahan satu persatu penonton membubarkan diri. Tinggallah Ainun dan Dinda berdiri. Keduanya saling tersenyum sesekali menatapku. Aku bulatkan keberanianku untuk mendekati mereka. 

"Selamat sore Dinda. Bolehkah aku memberimu sepucuk surat? Surat yang kutulis sebab menggambarkan perasaanku padamu." Kataku pada Dinda yang membuat mata indahnya terbelalak.

"Terima.. Terima.." Bisik Ainun sembari tersenyum kegirangan.

Wanita berjilbab segi empat itu merupakan sahabatku juga sahabat Dinda. Ia mendukung penuh agarku jadi dengan Dinda.

Akhirnya Dinda pun menerimanya. Ia segera membalikkannya badan lalu membacanya dibawah pohon waru.

BACA JUGA : PRIA WAJIB TAU, 5 CARA MEILIH PASANGAN HIDUP

Surat yang kutulis berisi,

"Yogyakarta 01 November 1980

Teruntuk Dinda Anjar Pratiwi yang manis.

Assalamualaikum warahmatullahiwabarokatuh

Dik Dinda. Kenalkah kau denganku? Namaku Agung Wibisono. Disini aku tinggal dirumah Bibiku, Yaitu Bibi Gandari.

Maksud hati menulis surat ini yaitu yang pertama aku ucapkan terimakasih kepadamu yang telah sudi membuang waktumu untuk membaca tulisanku.

Dinda. Izinkan aku menyebutmu Dindaku.

Sebab apa mau dikata,

Engkau selalu membuat tidurku tak nyenyak karena mengingatmj.

Dalam netraku hanya terlukis wajah ayumu.

Dalam telingaku hanya terngiang-ngiang sebutan namamu.

Mungkin kalimatku terlalu berlebihan. Tapi begitulah adanya yang kurasakan. Dinda seandainya kau mau menerima cintaku? Lalu mau menjadi pendamping hidupku disaat senang maupun susah. Tentu aku kan menjadi pria yang paling beruntung didunia ini.

Dinda. Lihatlah pemandangan senja yang sungguh mempesona. Lihatlah burung-burung terbang diawan menuju sangkar. Lihatlah mengagumkannya matahari terbenam. Mereka semua menyaksikan saat aku menyatakan cintaku padamu. Aku berharap dihari-hari yang akan datang kita selalu bisa menikmati momentum kebahagiaan yang sederhana ini. 

Dindaku. Kusudahi suratku. Tapi ku takkan menyudahi harapanku padamu. Sebelum kau dengan terang-terangan menolakku. Aku takkan berhenti menunggu. Jangan lupa kau balas Dik. Apapun jawaban darimu akan kuterima dengan lapang dada.

baca juga : wanita harus tau? 7 cara memilih pasangan hidup yang tepat

Agung Wibisono."

Dinda membaca surat dariku dengan raut berbunga-bunga. Pipinya memerah kala Ainun mempercandainya. 

Keesokan harinya, Ainun datang kerumah Bibi Gandari (Tempat aku tinggal) dengan tergopoh-gopoh. Bahkan ia meminta Bibi Gandari membangunkanku saat aku masih terlelap. Lalu dia memaksaku untuk segera membaca balasan surat dari Dinda.

Surat itu berisikan,

"Yogyakarta 20 November 1980

Untuk Mas Agung yang sejak lama kukagumkan.

Mas, Aku bagai disambar petir diujung senja. Hatiku bergetar dahsyat kala engkau menyatakan cinta. 

Mas, Sejujurnya aku telah lama mencintaimu dalam diam. 

Diam-diam aku mencuri pandang. 

Kepada sosok pria yang mencoba menghibur semua orang.

Wajah yang rupawan, Meniup seruling dengan merdu menusuk kalbu.

Kini kesempatanku untuk meniti hidup bersamamu sudah didepan mata.

Aku terima cintamu dengan segenap jiwa ragaku.

Datanglah kerumahku.

Aku mau hubungan kita sampai pada penghulu."

"Aaaa ...." Teriakku saking bahagia tak terkira.

Tanpa mengulur waktu, Aku mempersiapkan penampilan terbaikku. Sayang sekali Bibi Gandari tidak ada dirumah. Wanita paruh baya yang kuanggap ibu kandungku sendiri. Jadi terpaksa aku harus berangkat kerumah Dinda seorang diri.

Sesampai dirumah gedung berhalaman luas itu. Aku melihat mobil mewah yang tadi hampir menabrak Ainun terparkir disana. Kulihat rumah pujaan hatiku dihadiri banyak orang berpakaian rapi.

"Saya Nikahkan dan Saya kawinkan. Pradipta Dwi Anggoro Bin Rajasa Anggoro dengan Dinda Anjar Pratiwi bin Jumali dengan maskawin seratus ekor sapi, Satu hektar sawah dan  uangtunai sebesar lima ratus juta rupiah dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya..."

"Berhenti! Pernikahan ini tidak dilanjutkan. Huhuhu." Teriak Dinda menangis histeris memotong berlangsungnya akad pernikahan yang lengah diucapkan seorang pria disampingnya.

Gadis cantik itu berlari menuju aku yang mengintip dibalik pintu. Ia tak memperdulikan banyak orang yang terheran melihatnya.

Bersambung CERITA SELANJUTNYA klik disini