Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

CERITA KELUARGA | DINDA TRAGEDI KERETA SENJA 1981 BAGIAN 3

CERITA SEBELUMNYA - "Memang aku juga tidak pernah menginginkan pernikahan tadi terjadi Nun." 

"Tapi kan ada cara yang lebih baik Dinda. Harusnya kamu terus terang kepada ...."

Duuuaarrrr. 

Suara senjata api menggelegar, Peluru nyaris mengenai kearah kami bertiga. Sontak Dinda dan Ainun menjerit ketakutan.

INTANCAHYA CERITA KELUARGA


intancahya.com - bagian 3 - Kami pun berlari kesemak-semak. Sekelompok orang dengan penutup kepala mencoba mencari kami. Sementara Dinda sudah semakin tak berdaya hingga tak sadarkan diri. Aku pun menggendongnya.

Duuarrr.

Peluru itu mengenai kaki Ainun. Hingga ia tersungkur tak bisa melangkah. Aku pun segera balik untuk menolong Ainun.

"Pergilah! Cepat! Selamatkan dirimu dan Dinda. Atau kita semua malah celaka semua!" Perintah Ainun sambil menahan sakitnya.

"Tapi Nun?" Bantahku.

"Cepat! Mereka mau datang!" Perintahnya lagi.

Akhirnya aku berlari sembari menggendong Dinda dengan sekuat tenaga. Meski cucuran keringat turut membasahi robekan luka yang telah memberikan nuansa teramat perih luar dalam. Aku takkan menyerah.

Setelah kurasa jauh dari bahaya. Tentu saja, Aku memikirkan bagaimana keadaan Ainun sekarang. Sungguh, Aku tak tega meninggalkan sahabatku tersebut dalam bahaya. Tapi apalah daya, Aku juga harus menyelamatkan Dinda. 

Nahas. Komplotan penjahat mengetahui keberadaan kami. Mereka segera menangkapku. Dan membiarkan Dindaku tergeletak ditanah. Kukira mereka hanya mengambil perhiasan emas yang dikenakan Dinda. Nyatanya, Justru lebih biadab. Mahkota kegadisan Dinda telah dirampas. Dindaku dirudapaksa dihadapanku.

Laksana sebilah pedang yang membelah dada. Menancap didasar jantung. Lalu menghentikan seluruh aliran darahku. Bagaimana bisa naluri kemanusiaanku sekaligus jiwa lelakiku tak terguncang melihat kekasih yang hendak kujadikan calon istriku mendapatkan perlakuan yang sangat keji.

Tak cukup pemerkosaan, Dindaku juga mendapatkan penyiksaan yang kejam.

Duaarr. 

Sebuah peluru ditembakkan tepat keperut bagian bawah dari Dinda. Aku tak sanggup melihatnya. Sekawan penjahat itu segera pergi. Tinggallah aku yang menangisi Dinda. Kuberteriak berdoa kepada Tuhan,

"Ya Rabb, Aku mohon selamatkan Dinda. Aku rela tak bisa bersanding dengannya bila kehadiranku hanya membawa petaka baginya."

"Anakku!" Teriak seseorang dari balik semak belukar yang tidak lain ialah Pak Jumali.

Pak Jumali beserta Ibu Teruni segera berlari merebut Dinda dari pelukanku lalu berganti mereka yang memeluk anaknya. Mereka diikuti anak buah Pak Jumali terpana kaku melihat musibah ini.

"Huhuhuuu. Mas bagaimana ini mas? Sudah aku bilang seharusnya kamu sebagai orangtua harus berhati-hati dalam berucap dan mengambil sikap!" Tegur Ibu Teruni berderai airmata.

Pak Jumali tak menghiraukan celotehan istrinya. Dia tetap tersungkur memeluk dan menangisi putrinya.

"Ayo kita bawa Dinda kerumah sakit terbaik!" Ujar Pak Jumali yang dengan sigap diikuti anak buahnya.

Sementara mereka berlalu, Tinggallah Ibu Teruni yang menatapku sendu.

"Nak, Ayo ikut kerumah sakit! Ibu lihat kamu juga butuh perawatan." Pinta Ibu Teruni.

"Saya akan ikut kerumah sakit untuk melihat kondisi Dinda Bu. Tidak usah dirawat juga, Saya tidak apa-apa Bu." Jawabku

"Lhoh. Tidak apa-apa bagaimana? Coba kamu lihat luka-luka kamu ini juga cukup parah. Sudahlah ikuti saja mau ibu! Semua biaya biar ibu yang tanggung!" Desak Ibu Teruni sembari menggandeng tanganku lalu menuntunku berjalan.

Ibu Teruni dulunya juga sama cantiknya dengan Dinda. Dia juga dikenal sebagai wanita berhati mulia didaerah sana. Namun entah mengapa Pak Jumali tidak puas dengan satu istri. 

"Aku dan ayah Dinda dulunya tak saling mencintai. Kami dijodohkan dan terpaksa mengikuti. Bahkan hingga kini hubungan kami kerap dingin bagai salju. Dia sebagai lelaki enak, Tinggal menikah lagi dengan wanita yang dia sukai dikemudian hari. Sementara aku, Sebagai wanita suka tidak suka harus tetap setia. Kalaupun memilih bercerai juga kasihan anak menjadi korban. Tidak semua lelaki memikirkan lebih dalam tentang anaknya." Ibu Teruni bercerita sepanjang jalan.

"Jika kamu dan Dinda saling mencintai. Menikahlah. Ibu merestuimu. Asal kamu berjanji tak akan melukai anakku baik lahir maupun batin. Jika ayahanda Dinda tak setuju. Pergilah kalian kerumah saudaraku di Jakarta. Ibu akan membantu perekonomian kalian hingga sukses." Tutur Ibu Teruni.

Aku segera bersimpuh dikakinya,

"Terimakasih Bu, Aku tidak dapat berkata apa-apa selain itu. Agung tidak akan pernah mampu membalas jasa dan kemuliaanmu"

"Bangun! Ingat jangan pernah sakiti anakku lahir maupun batin" Tariknya yang membuatku terbangun.

"Ibu, Bagaimana ibu dan ayahanda tau kalau kami ada disini. Bagaimana pula tadi. Oh ya Ainun. Ainun juga ditembak oleh..."

"Ainun selamat. Dia yang menghubungi kami. Berkat jasanya kamu dan Dinda segera mendapatkan pertolongan."

Aku menghela nafas lega. Lagi-lagi Ainun banyak sekali membantuku.

Sesampai dirumah sakit. Aku juga dirawat. Dinda mengalami masa-masa kritis selama seminggu. Pak Jumali tiada henti menangisi putrinya. Matanya sembab dan jua memerah.

"Nak. Bangun Nak. Ayah mohon. Jika kamu mau membuka mata dan bangkit lagi untuk menjalani hidup. Papa janji akan membiarkanmu menikah dengan siapapun yang kamu cintai. Ayah janji Nak, Akan merestui hubungan kalian." Bisik Pak Jumali ditelinga Dinda.

Tiba-tiba jari jemari Dinda bergerak. Bola matanya terlihat berputar dalam kelopak mata yang terpejam. Kami semua menyaksikan keajaiban tersebut. Segeralah perawat dan dokter dipanggil Ibu Teruni.

Setelah melakukan pengecekan. Dokter berkata pada kami,

"Alhamdulillah, Alhamdulillah, Harapan hidup Dinda sangat meningkat drastis. Bahkan dia dalam sekejap telah melewati masa krisisnya. Ini sangat baik. Ini sebuah keajaiban yang tidak semua pasien mendapatkannya. Cuma sayangnya, Peluru telah menancap kebagian rahim Dinda. Menyebabkan luka yang cukup parah sehingga kami harus mengangkat rahimnya. Kami memastikan saudari Dinda tidak akan pernah bisa mengandung." Jelas Dokter.

Semua orang gembira tapi juga sedih. Termasuk juga diriku. Dinda ialah istri idamanku. Tapi sayang dia tidak bisa menjadi ibu bagi anak-anakku.

Dipenghujung 31 Desember 1980. Dinda telah pulih. Kami pun melangsungkan pernikahan dengan hikmat. Bibi Gandari jua hadir. Kecuali ibuku yang menjadi TKI diluar negeri, Tak pernah aku tau kabarnya.

"Nak. Kalian sudah menikah. Alangkah lebih baik kalian pergi meninggalkan kota ini. Karena ayahanda khawatir kalian akan terus menerus mendapatkan terror dari keluarga Rajasa Anggoro yang merasa dendam." Ujar Pak Jumali kepadaku dan Dinda.

"Pak apakah polisi sudah menangkap mereka?" Tanyaku geram.

"Kami tidak melaporkan kepihak kepolisian Nak. Mereka orang yang sangat berada. Pasti sekarang sudah melarikan diri keluar negeri. Lagipula ini bukan murni salah mereka. Ini salah ayahanda juga yang terlalu memaksa. Mereka juga menanggung malu dan harga diri. Sudahlah baiknya memang kalian meninggalkan daerah ini untuk menghindari terror dan juga gunjingan tetangga." Jawab Pak Jumali.

"Nak, Kami sudah menyiapkan rumah untuk kalian tinggali. Untuk sementara kalian bisa bantu-bantu direstoran Bibi Anggraini. Bukan sebagai pelayan. Tapi menejernya. Soalnya menejernya dua bulan lagi izin mengundurkan diri." Jelas Bu Teruni pada kami.

Akhirnya pada tanggal 01 Januari 1980, Ditahun baru ini aku dan Dinda menempuh hidup baru. Dikota yang baru.

Entah mengapa malam pertama diantara kami begitu mengganjal. Dinda masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosa yang telah menimpanya. Aku juga muncul rasa jijik menjamah sosoknya yang sudah nikmati pria lain. Meskipun itu bukanlah salahnya. 

Tapi aku masih terbayang-terbayang bagaimana Dinda melakukan hubungan itu didepan mata kepalaku sendiri. Lagi pula aku juga muncul rasa putus asa sebab Dinda tak akan mungkin memberiku buah hati.

Dinda menyibukkan diri dengan training tuk menjadi meneger direstoran Bibinya. Dia juga sibuk menjalani terapi psikis atas kejadian kelam tersebut. Akhirnya, Dinda jarang sekali memperhatikanku. 

Tak pernah kusangka semua jadi begini. Menikah dengan Dinda yang kucinta kukira akan menjadikan kami bahagia. Tapi Tuhan menghendaki sekenario lain yang teramat menguras airmata.

Untuk sehari-hari aku sering surat menyurat dengan Ainun. Hingga suatu ketika ia berkunjung kekediaman baruku di Jakarta. Aku menjemputnya diterminal. Dia tiba disini saat Dinda belum ada dirumah.

Kami berbincang-bincang seperti biasanya. Semenjak tinggal disini. Aku tidak pernah berjumpa dengan Ainun. Ada ruang kerinduan dihatiku untuknya. Entah mengapa aku baru menyadari kalau aku merindukan sosok sahabat wanita yang dulunya sering menemaniku dalam susah maupun senang.

Aku juga tak ragu menceritakan semua rahasia diantara aku dan Dinda kepada Ainun. Terutama tentang tindakan asusila yang menimpa Dinda.

"Kalau kamu membutuhkan hubungan biologis katakan, Ada aku. Jika kesucian tak mungkin kamu dapatkan dari istrimu, Ada aku. Jika kamu menginginkan anak kandung yang tak mungkin diberikan oleh istrimu, Ada aku. Aku siap membantu tugas Dinda atas ketidaksempurnaannya. 

Aku sahabatmu juga sahabatnya. Jujur, Aku mencintaimu sejak lama. Aku mendedikasikan hidupku demi keselamatan dan kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia bersama Dinda. Aku mendukung. Jika ada ketidaksempurnaannya, Aku siap melengkapinya." Ujar Ainun laksana sebuah peluru yang meledak dikepalaku.

Sehingga segala rasa cinta dan persahabatan membaur meluluhlantakkan hati dan akalku sehingga tak selaras.

"Kenapa kamu tak mengatakan sejak dulu Nun?" Tanyaku balik.

"Bagaimana mungkin aku menyatakan cintaku padamu. Sedangkan setiap hari kau memuji-muji Dinda. Apalagi yang harus kulakukan selain menyatukan kalian berdua demi kebahagiaanmu!" Jawab Ainun.

"Tapi, Mana mungkin aku menyia-nyiakanmu Nun? Aku juga mana mungkin menghianati Dinda? Nun, Kenapa aku sebimbang ini?" Pekikku.

Tiba-tiba plak. Sebuah tamparan mendarat dipipi Ainun. Tamparan itu dilayangkan oleh istriku. Sungguh aku dan Aiun tak mengetahui kalau Dinda ada dirumah.

Plak. Plak. Plak.

"Penghianat!" Teriak Dinda sambil menampar wajah Ainun. 

Sementara aku segera merangkulnya, Ainun tampak merunduk pasrah akan kemarahan Dinda.

Bersambung cerita selanjutnya klik disini

baca juga :