Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Part 14 - intancahya.com

CERITA KELUARGA - cerita sebelumnya - Setelah dr. Cantika pergi. Para asisten rumah tangga pun keluar dari kamar Edwin dan Diffarina. Lalu datanglah Pak Karto mengantar Aldino yang sudah terdidur.

"Permisi, Tuan, Nyonya. Ini Aldino tadi tak ajak jalan-jalan, Eh ketiduran." Bisik Pak Karto agar Aldino tidak terbangun.

Edwin menghampiri Pak Karto dan mengambil alih Aldino dari gendongan Pak Karto. Setelah itu Edwin menidurkannya diatas kasur.


cerita keluarga intancahya
NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Part 14 - intancahya.com


"Terimakasih Pak Karto. Tadi Aldino mau tidur apa gak rewel? Maaf ya Pak." Ujar Diffarina.

"Tidak kok Nyonya, Aldino saya ajak jalan-jalan lihat bunga warna-warni, Lihat ikan dikolam, Dia senang sekali. Sampai dia mengantuk lalu ketiduran deh." Jelas Pak Karto.

"Ohh iya Pak, Seharian dia tidak tidur. Terimakasih, Bapak boleh melanjutkan aktivitas bapak." 

"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Kata Pak Karto meninggalkan ruangan.

"Mi, Aldino hendak punya adik, Tapi kok masih begitu ya Mi." Keluh Edwin.

"Begitu gimana Pi?" Tanya Diffarina mengernyitkan dahinya.

"Yah kok masih belum sembuh dari predikat anak- berkebutuhan khusus. Apa memang gak bisa disembuhkan ya Mi?. Kalau gitu kan kasihan anaknya?" Kata Aldo bingung.

"Kasihan kita juga Mi, Sebagai orang tuanya." Edwin memelas. 

Diffarina menghela nafas panjang lalu bertutur,

"Anak itu titipan dari yang Maha Kuasa. Tugas kita hanya merawat dan mendidiknya dengan sebaik mungkin. Hasilnya kita pasrahkan saja Pi. Bukan anak saja yang bisa belajar pada orangtua. Tapi orangtua juga bisa belajar kepada anak-anaknya. Mungkin kehadiran Aldino mengajarkan kepada kita agar menjadi pribadi yang lebih sabar dan telaten dalam merawatnya, Serta berjiwa besar dalam menerima segala keterbatasannya. Intinya Tuhan tidak akan memberi jika kita tidak mampu."

"Iya sayang. Aku berharap banget Aldino bisa berkembang menjadi lebih baik. Aku juga berharap kalau anak kita yang masih dalam kandunganmu akan lahir sempurna lahir batin Mi. Aku merindukannya Mi."

Keduanya pun saling berpelukan menguatkan satu sama lain. Disisi lain, Luluk tumbuh tak terurus. Bocah tersebut memakai baju compang-camping dengan rambut gimbal penuh kutu karena jaran mandi dan keramas. Sementara Marni hanya sibuk berdandan, Berkencan dengan selingkuhannya. Berkumpul dengan teman-temannya. Laksana anak ABG yang belum punya anak istri.

Luluk ditinggal sendirian dirumah. Perutnya mulai lapar. Dia sudah bosan dengan roti yang disediakan Marni. Maka seperti biasanya, Dia pun keluar rumah untuk meminta makan kepada para tetangganya tanpa sepengetahuan Marni.

"Loh. Adek? Ibumu kemana? Kamu lapar ya?" Tanya Andre yang berpapasan dengan Luluk.

Luluk menunduk takut. Dia masih memegang perutnya. Suara perutnya terdengar oleh Andre. Membuat Andre tak tahan menolong.

"Wah tadi pagi, Emaknya dandan menor mau ngelont* rupanya gak ngajak anak." Gumam Andre dalam hati.

"Yuk Dik. Jangan takut! Ikut Abang ya, Kita cari makan." Ajak Andre.

Mendengar kata makan, Luluk pun bersemangat. Dia tak menolak ajakan Andre. Andre pun ingin makan bersama kekasihnya. Mereka janjian diwarung Bakso dan Mi ayam yang terletak dipinggir jalan. Sesampai disana kekasih Andre sudah menunggu. Ternyata kekasihnya tak lain adalah Tuminah. Asisiten rumah tangga dirumah Edwin dan Diffarina.

"Hai Dek. Maaf nunggu lama ya?" Sapa Andre sambil duduk dikursi kosong didepan Tuminah.

Luluk pun ikut duduk.

"Siapa ini Bang? Kok aku kayak pernah lihat ini anak ya?" Tanya Tuminah saat melihat Andre mengajak Luluk. 

Andre pun menjelaskan tentang Luluk pada Tuminah. Tuminah ikut merasa iba,

"Kasihan ya Bang. Iih gak tayoh tuh ibunya. Kalau anaknya diculik orang gimana. Yaudah. Setelah makan nanti tak belikan baju dipasar ya Dek."

Setelah itu mereka memesan tiga mangkok bakso dan tiga gelas es. Tak hanya harga murah dan masakan yang enak. Pelayanan warung tepi jalan tersebut sangat cepat dalam menyajikan. Andre menyuapi Luluk sebelum dirinya makan. Sisi lembutnya pada anak-anak selalu tampak, Meskipun penampilannya bagai preman bertato.

BERSAMBUNG ke cerita selanjutnya

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PART 15