Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH MISTERI PESUGIHAN TUYUL | intancahya.com

CERITA MISTIK - Matahari terbit menampakkan diri. Setiap insan beranjak dari tempat tidur untuk melakukan kesibukannya. Lalu lalang kendaraan mulai terlihat memenuhi jalanan. Di Sekolah, Pasar, Sawah, Perkantoran dan tempat-tempat umum lain telah ramai oleh pengguna. Tak ketinggalan disalah satu komplek perumahan yang pagi ini dihebohkan dengan keluhan ibu-ibu dipangkalan sayur langganan.

cerita pesugihan tuyul
cerita tuyul


"Ya Gusti. Padahal uang itu saya kumpulin sedikit demi sedikit dari sisa belanja gini. Sisa limaribu, Sisa sepuluh ribu, Limabelas ribu, Saya kumpulin terus sampai terkumpul tiga juta. Rencana buat anak masuk SMA. Lhah kok bisa-bisanya berkurang seratus ribu demi seratus ribu. Sisa cuma dua juta seratus. Kalau begini terus apa gak habis tabunganku?" Cerita Bu Ipah.

"Lhah kok sama Bu. Saya juga gitu. Gajian suami kan kami tarik semua. Biar gak bolak-balik ke mesin ATM. Nah, Gak taunya tiap malam berkurang limapuluh ribuan terus. Padahal tiap hari saya hitung. Eh beneran memang berkurang itungannya. Tau gitu gak saya tarik dari ATM Bu." Cerita Bu Maria tak kalah kesal.

"Ih. Ih. Yang benar kalian? Kok sama ya. Saya simpan didalam lemari hilang seratus. Besoknya hilang lagi seratus. Malah udah tak simpan diatas lemari masih hilang. Pindah dibawah dipan pun tiap hari hilang. Lhah kok tiba-tiba gak aman gini ya? Padahal dulu mau saya taruh dimana saja tetap. Aman tak berkurang." Ujar Bu Nining menaruh curiga.

baca juga : NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PART 16

"Wah. Wah. Ada yang gak beres ini?" Ucap Pak Priyo, Penjual sayur.

"Gak beres memang Pak. Saya juga ngalamin seperti yang ibu-ibu semua. Masih mending ibu-ibu yang hilang uang simpanan. Nah saya bawa uang arisan. Yang hilang uang arisan. Kalau bukan saya yang mengganti, Siapa lagi?" Kata Bu Farida putus asa.

"Lhohh jadi uang kita-kita yang ikut arisan hilang Bu?" Seru ibu-ibu yang lain.

Bu Farida mengangguk lemas,

"Tapi gapapa memang sudah resiko saya yang megang. Pasti saya ganti. Habis kocokan yang terakhir, Sudahan aja arisannya. Daripada saya tekor terus." Keluhnya.

"Wah yang sabar ya Bu. Kalau uang belum ada ya ditunda dulu arisannya. Ga apa-apa kan semuanya?" Tanya Bu Maria.

"Setuju." Jawab Ibu-ibu yang lain serentak.

Datanglah Bu Atikah dengan penampilan yang glamor. Perhiasan emas berupa cincin melingkar disetiap jari-jari tangannya. Tumpukan gelang nyaris sesiku. Beberapa kalung mulai dari yang pendek hingga panjang dipakai dilehernya. Sekumpulan emas tersebut semakin berkilau diterpa sinar matahari pagi, Menyilaukan mata hati ibu-ibu yang tidak memilikknya.

baca juga : 4 JENIS PESUGIHAN YANG HARUS ANDA KETAHUI? 

"Pak Pri. Dagingnya, Udangnya, Ayamnya sama jamur saya borong semua. Berapa totalnya?" Tanya Bu Atikah yang membuat semua ibu-ibu melongo melihat kondisi ekonominya yang meroket saat ini.

"Ohh. Daging satu setengah kilo uangnya seratus limapuluh, Udang seperempat Limabelas ribu kalau sebanyak lima bungkus jadi enam puluh ribu. Ayam ini ada dua kilo delapan puluh ribu. Jamur setengah kilo tiga puluh ribu. Total tiga ratus duapuluh ribu Bu." Kata Pak Priyo usai menghitung.

"Tumben belanja banyak Bu? Ada tamu?" Tanya Bu Farida.

"Tidak Bu. Buat sehari-hari saja. Biar makan-makanan bergizi." Jawab Bu Atikah dengan bangga. 

Bu Atikah membuka dompetnya. Segebok uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan memenuhi dompet yang nyaris tidak muat. Para ibu-ibu yang lain menatap dengan takjub. Kemudian Bu Atikah menyerahkan uang belanjaannya pada Pak Priyo lalu kembali pulang.

Topik pembicaraan pun berganti. Dari kehilangan berganti membahas kehidupan Bu Atikah yang secara ekonomi melonjak drastis. Dulu suaminya hanya tukang angkat dipasar. Untuk bisa makan sehari-hari pun sulit. Kini dia memiliki dasar sendiri untuk membuka toko sembako. Merenovasi rumah dari bangunan rapuh menjadi megah. Dua mobil mewah terparkir dihalaman. Bila ada yang bertanya darimana sumber kekayaannya, Bu Atikah hanya menjawab bersumber dari warisan.

baca juga : WASPADAI 3 TEMPAT PESUGIHAN YANG HARUS DI KETAHUI? AGAR ANDA TIDAK TERJERUMUS

Ketika malam hari telah tiba. Ragil terbangun tengah malam. Putra bungsu dari ibu ipah itu melihat anak kecil yang hanya memakai celana dalam serta botak kepalanya mengambil uang ibunya dilaci. Ragil pun memergokinya. Kedua anak tersebut lari ketika tahu ragil bisa melihat mereka. Tanpa basa-basi ragil segera mengejar mereka. Sony kaget dan terbangun tatkala adiknya berlari berteriak pencuri keluar rumah. Putra pertama Bu Ipah yang usianya sudah enam belas tahun tersebut tadinya disuruh Bu Ipah menjaga Ragil, adiknya. Saat ditinggal bu ipah menginap di saudaranya yang ada hajatan.

" Ada apa sih Dek? Siapa yang mencuri? Katakan." Tanya Sony penasaran mengingat ia sudah mengunci rumah.

" Dua anak kecil kak. Yang di depan kita. Tak pakai baju, Cuma pakai sempak dan kepalanya botak. Dia bisa nimbus tembok loh. Eh dia lari ke rumah Bu Atika. Ayo kita kejar!" Jawab ragil tergopoh-gopoh.

"Jangan-jangan tuyul." Gumam Sony dalam hati.

Sony mengikuti saja. Ia paham kalau adiknya seorang anak indigo. Sony menyuruh ragil agar tetap diam dan tidak gaduh. Cukup mengintip saja kelanjutan tuyul tersebut di rumah Bu Atikah.

Sebelum masuk ke rumah bu Atikah. Kedua tuyul membasuhkan kakinya dikolam ikan kecil depan rumah Bu Atikah. Lantas mereka memakan kacang hijau mentah yang direndam air dimangkuk depan pintu.

Deggg. Sony dan Ragil terkejut kala melihat Bu Atikah keluar pintu dengan telanjang dada. Setelah makan, Kedua tuyul tersebut menyetorkan uang hasil curiannya ke Bu Atikah. Lalu Bu Atikah menyusui kedua tuyul tersebut. 

baca juga : ANDA HARUS TAU! PERBEDAN ARWAH, ROH, JIWA, SUKMA DAN RAGA? 

"Kak. Bu Atikah nyusuin anak botak yang curi uang." Bisik Ragil.

"Ssssuuutttt. Diam! Yaudah ayo pulang." Ujar Sony setelah memahami sesuatu.

"Tapi Kak, itu tadi siapa? Bu Atikah kan gak punya anak kecil?" Tanya Ragil.

Sony tidak menjawab. Ia dengan sigap menggendong Ragil dan membawanya pulang. 

Besoknya, Sony menceritakan kejadian semalam kepada ibunya. Tak ingin mengetahui hal ini sendirian, Bu Ipah mengumpulkan orang-orang yang setiap hari kehilangan uang dan memberitau apa yang dialami anaknya semalam.

"Oh, Melihara tuyul. Pantas saja kaya mendadak." Kata Bu Maria.

"Nahh. Saya sudah curiga dari awal. Jelas ada yang tidak beres. Wah wah." Sambung Pak Priyo.

"Lah. Apes banget kita jadi tetangganya. Mau nuduh juga gak ada bukti. Aku juga pernah lihat Bu Atikah telanjang dada diteras malam-malam." Ujar Bu Farida.

"Iya saya juga pernah lihat. Beliau gak pakai baju bagian atas serta tidak pakai BH malam-malam didepan pintu rumahnya. Saya ceritakan ke istri malah dia marah-marah dikira saya mata keranjang. Padahal namanya punya mata ya lihatlah. Ya yang masalah gitu kenapa telanjang dada diteras atau diruang tamu. Kalau mau kasih kelakinya kan lebih baik dikamar. Hahaha gak gitu kan ibu-ibu?" Cerita Pak Priyo.

"Eh baru ingat. Dia itu suka bawa kacang ijo kerumahnya banyak banget. Buat apa cobak? Kalau buat kolak kan satu kilo udah cukup ya nggak?" Seru Bu Nining.

"Tenang. Tenang. Nanti kita kunjungi Mbah Wahid. Kita minta solusi sama beliau." Ujar Pak Priyo 

Mbah Wahid adalah seorang guru ngaji dimasjid yang rela mengajar anak-anak mengaji secara gratis. Selain itu beliau juga ahli dalam bidang spiritual dan supranatural. 

Sore harinya dikediaman Mbah Wahid,

"Iya. Lapangan pekerjaan semakin sempit. Harga kebutuhan pada naik. Banyak manusia yang menilai seseorang hanya berdasarkan harta. Sehingga banyak orang yang diuji ekonominya merasa semakin tertekan dan sudah tidak tahan hidup dalam kemiskinan. Lalu para dukun-dukun dibantu dengan jin dan syetan-syetan menawarkan iming-iming pengelarisan, Pesugihan yang menjanjikan kaya secara instan. Akhirnya banyak orang yang tertarik mengikuti, Termasuk tetangga sampiyan yang ikut pesugihan tuyul. Sebenarnya dirinya sudah siap resiko, Termasuk mati muda." Jelas Mbah Wahid.

"Mati muda?" Kaget Pak Priyo.

"Iya. Karena yang diminum tuyul itu bukan ASI tapi darah. Yang namanya pesugihan ya ada syaratnya. Dan syaratnya itu sebenarnya sangat merugikan dirinya sendiri. Selain umur pendek dan diperbudak oleh makhluk yang dulu membantunya. Resiko kemiskinan juga mengancam kelangsungan hidup anak turunnya nanti. Sebab rezeki mereka sudah banyak diambil oleh orangtua sebelum waktunya, Walaupun tidak semua dan bisa dihindari dengan ikhtiar. Baiklah semuanya. Tolong jangan dihina meskipun anda semua sudah tahu siapa pelakunya. Itu pilihan dia dan dia sendiri yang bertanggung jawab. Tapi yang perlu anda semua terapkan adalah bagaimana cara agar harta milik kalian tidak dicuri." Tutur Mbah Wahid sembari memberitahu cara agar uang kita tidak dicuri oleh tuyul. 

“Silahkan kalian menaruh cermin, Bawang merah, Disekitar uang. Uang hendaknya ditali karet dan doa-doanya bisa sesuai keyakinan masing-masing asal khusu. Jangan lupa sekeliling rumah kalian tabur garam sambal sholawat. Nah tuyul kalua melihat kaca itu takut sama bayangannya sendiri. Terus dia juga matanya perih kalau ada bawang merah sehingga tidak bisa melihat jelas. Dia juga kesulitan mengambil uang yang dikaret. Tuh uang dimesin atm kan dipress kuat. Gak bisa tuyul ngambil. Dia juga kehilangan energi saat menginjak garam. Dah itu saja dulu. Terapkan, Mohon kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Niscaya Tuhan akan menjaga keselamatan dan harta benda anda semuanya.” Jelas Mbah Wahid

Sepulang dari sana. Para warga menerapkan apa yang diajarkan Mbah Wahid. Alhamdulillah sudah tidak ada berita kehilangan uang lagi.

Tiga bulan kemudian Bu Atikah dikabarkan meninggal dunia. Tidak melalui sakit sebelumnya. Selang empatpuluh harinya, Suami Bu Atikah pun meninggal dunia juga. Alhasil anak-anaknya hidup miskin bahkan lebih miskin dari sebelumnya. Konon, Gara-gara anak-anaknya tidak mau meneruskan ritual pesugihan yang telah dilakukan kedua orangtuanya.

Tuhan Maha Kaya. Mintalah kepadanya, Mohonlah pertolongan padaNya. KekayaanNya seluas jagad raya tak akan berkurang bila diberikan kepada semua ciptaanNya. Rugilah bagi yang mengikuti Pesugihan. Karena ia meminta dan memohon pertolongan bukan kepadaNya. Karena kekayaannya bersifat sesaat, Lalu mengganti dengan karma yang buruk. Segala perbuatan pasti dipertanggungjawabkan.


KARYA : INTAN CAHYA