Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH MISTERI PESUGIHAN KANDANG BUBRAH | BAGIAN 1 | intancahya.com

intancahya - CERITA HOROR - Dibalik gedung bertingkat yang menjulang tinggi ditengah salah satu kota yang padat penduduk. Tersebutlah seorang penjual sekaligus memproduksi tas bernama Qionglin. Produknya laris manis dipasaran. Karyawannya  sebanyak empat puluh tujuh orang. Lima orang menjaga toko yang merupakan anak gadis semuanya. Tiga puluh bagian produksi yang terdiri dari ibu rumah tangga dan janda-janda tua. Lima orang laki-laki bagian pengiriman. 


cerita horor intancahya
PESUGIHAN KANDANG BUBRAH 1

Lima orang perempuan lagi bagian bersih-bersih dan memasak. Serta satu sales, dan satu saptam. Perkenalkan, Namaku Sumiyati. Aku karywan baru bagian penjaga toko. Aku merantau dari desa dan mendapatkan pekerjaan disini. Nyonya Qionglin telah menyediakan mesh untuk pekerja dari luar kota. Dia juga memberi makan untuk semua karyawannya. Mesh yang kutempati merupakan ruang kedap suara. 

Tidak ada cendela ataupun ventilasi udara. Kami tidur beralaskan tikar, dan makan pun telah disediakan piring dari seng, Gelas dari plastik. Bukan gelas dan piring dari kaca seperti yang digunakan majikan kami. Tapi aku tak masalah, Selagi itu bersih. Aku memandang sekeliling. Begitu banyak makhluk tak kasat mata yang memenuhi rumah, Tempat produksi, Toko, serta mesh karyawan. 

BACA JUGA : 4 JENIS PESUGIHAN YANG HARUS ANDA KETAHUI?

Mereka tampak menyeramkan dan tampak ingin mencengkeram orang. Namun aku hanya terdiam. Aku paham, Tak semua orang melihat apa yang kulihat. Jadi aku tak memberitau mereka atau aku akan dianggap omong kosong. Cukuplah aku berdoa dan mendoakan orang-orang disekitarku. Malam itu aku dan keempat rekan penjaga toko makan bersama usai dikirim Bi Inem, Pembantu bagian masak. 

Kami semua memakan dengan lahab. Mereka tampak antusias membicarakan kematian rekan mereka yang bernama Anjani. Minggu kemarin ia ditemukan tewas terjatuh dari tangga rumah Nyonya Qionglin. Sesekali Dian, Kartini, Aisyah, dan Ajeng mengusap airmata yang berlinang dipipi masing-masing. Sembari memandang potret Anjani yang sudah setahun bekerja bersama mereka, Hingga hubungan mereka bagaikan saudara. Paska kematian Anjani, Aku yang diterima sebagai penjaga toko disini. 

Deggg. Aku terkejut bukan main, Sosok Anjani dengan wajah yang mirip potret tersebut muncul disamping mereka. Hanya saja wajahnya lebam dan berlinang darah. Dia memakai jubah putih juga menangis tersedu-sedu. Tak lama kemudian sosok makhluk halus berambut gimbal, Bermata merah, Menyeretnya pergi.

"Jaga dirimu agar tidak bernasib sepertiku!" Teriaknya padaku lalu lenyap bersama makhluk tadi.

Tentunya hanya aku yang mendengarnya. Aku merasa ada yang tidak beres disini. Perasaanku sangat tidak enak. Aku kembali dikejutkan dengan sosok kuntilanak yang menabur sesuatu kepiring Ajeng. Aku memelototinya, Lalu kuntilanak tersebut menundukkan kepala. Ia perlahan terbang meninggalkan ruangan tanpa berani menatapku lagi.

"Huueekkk .., Hueekkkk ..,"

"Ajeng! Ajeng! Kamu kenapa?" Teriak kami berempat menolong Ajeng.

Ajeng pun mual. Tak disangka Ajeng mengalami kejang-kejang. Wajahnya memucat. Kami berteriak meminta tolong,

"Tolong! Tolong! Tolong!"

Seluruh pekerja rumah berlari menuju mesh kami. Aku segera mencari Nyonya Qionglin dan menemukannya tengah ngobrol disambungan telepon. Aku memotong pembicaraannya,

"permisi Nyonya. Nyonya tolong teman saya! Ajeng mengalami kejang-kejang, Wajahnya memucat, Padahal sebelumnya dia masih sehat dan tidak apa-apa."

Nyonya Qionglin menutup teleponnya. Ia pun berdiri dan bercekak pinggang menatapku tajam.

"Hei! Pegawai baru! Kamu tidak lihat saya lagi telepon?. Kenapa kamu asal potong saja pembicaraan saya?. Itu tidak sopan. Karena kamu masih baru, Saya makhlum. Awas lain kali jangan diulangi!".

"Maaf Nyonya. Ini darurat, Ajeng kejang-kejang. Saya harus segera menghubungi Nyonya. Agar dia segera mendapat pertolongan dirumah sakit. Semua pegawai tidak ada yang berani mengantar kerumah sakit sebelum izin Nyonya." Jelasku sekali lagi.

"Memang! Apapun yang terjadi harus izin saya dulu. Bilang sama mereka, Taruh saja Ajeng diatas meja besar dibalai tengah. Nanti saya urus." Perintah Nyonya Qionglin dengan santainya.

"Nanti? Nanti kapan Nyonya? Ayolah tolong antar Ajeng secepatnya kerumah sakit Nyonya! Saya mohon!" Desakku membikin pipi putih Nyonya Qionglin merah padam.

"Huuhh ! Kamu itu susah sekali bilangin! Yaudah saya kesana!" Dengkus Nyonya Qionglin.

Aku tergopoh-gopoh mengikuti jangkauan langkah Nyonya Qionglin yang tinggi itu. Sesampai di mesh, Kondisi Ajeng semakin parah. Wajahnya sudah membiru.

"Ayo letakkan disana dulu!" Perintah Nyonya Qionglin sambil menunjuk meja besar dibalai tengah yang dimaksud.

Pak Tejo, Mas Wawan, Pak Hakim selaku karyawan pun segera menggotong Ajeng kesana. Tanpa membantah sedikit pun.

"Ayo yang lain silahkan bubar. Yang kerja shift malam cepat lanjutkan kerjanya! Yang persiapan mau kirim barang, Segera lanjutkan! Yang tadi sedang makan cepat selesaikan! Terus langsung bersihkan dan cuci piring sama gelasnya seperti biasa! Ayo bubar bubar!" Perintah Nyonya Qionglin dengan lantang.

Semua pekerja pun segera bubar kembali keaktivitasnya masing-masing. Aku mencurigai gerak-gerik Nyonya Qionglin yang tidak panik sama sekali. Melihat karyawannya kejang-kejang didepan mata, Harusnya ia segera membawanya berobat. Bagaimanapun dia telah bekerja padanya. Sudah tanggung jawabnya memperhatikan keselamatan pekerja. Aku masih terdiam mengamati bahasa tubuh Nyonya Qionglin. bersembung ke bagian 2 klik disini