Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH MISTERI PESUGIHAN KANDANG BUBRAH | BAGIAN 2 - intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - Semua pekerja pun segera bubar kembali keaktivitasnya masing-masing. Aku mencurigai gerak-gerik Nyonya Qionglin yang tidak panik sama sekali. Melihat karyawannya kejang-kejang didepan mata, Harusnya ia segera membawanya berobat. Bagaimanapun dia telah bekerja padanya. Sudah tanggung jawabnya memperhatikan keselamatan pekerja. Aku masih terdiam mengamati bahasa tubuh Nyonya Qionglin.

BACA JUGA : BERBAHAYA? 7 CIRI-CIRI PESUGIHAN KANDANG BUBRAH

cerita mistik intancahya
 PESUGIHAN KANDANG BUBRAH | BAGIAN 2 


CERITA HOROR BAGIAN 2

"Sumiati! Kamu punya telinga nggak? Ngapain bengong disitu? Saya bilang apa tadi?" Bentak Nyonya Qionglin padaku.

Dian dan Kartini pun kembali kearahku, Dan menggandengku pergi. Sembari berkata,

"Mohon dimaklumi Nyonya. Dia masih baru."

"Lah iya saya paham. Kamu juga sebagai senior ajarin dia!" Balas Nyonya Qionglin.

Dian dan Kartini mengandengku untuk buru-buru pergi.

"Sudah, Ayo kita pergi. Jangan diambil hati, Nyonya Qionglin memang begitu." Bisik Kartini pelan.

Sesampai dimesh. Kami sudah tidak berselera makan. Ketiga kawanku tampak gelisah. Kami pun membersihkan sisa-sisa makanan. Lalu mencucinya kebelakang.

"Kenapa ya Ajeng kok tiba-tiba kejang-kejang begitu padahal dari tadi tuh baik-baik saja." Keluh Aisyah.

Aku memiliki firasat buruk bahwa kuntilanak tadi telah membubuhkan racun kedalam piring Ajeng. Namun siapakah dalang dari semua ini. Aku menghela nafas panjang. Aku mulai mencurigai Nyonya Qionglin ada dibalik semua ini.

BACA JUGA : WASPADA 3 TEMPAT PESUGIHAN YANG HARUS DI KETAHUI? AGAR ANDA TIDAK TERJERUMUS

"Aku juga bingung Syah. Masak ditiap bulan ada saja karyawan yang meninggal disini. Memang sih takdir tidak ada yang tau. Tapi masak terus-menerus ada yang meninggal pada saat bekerja. Tanpa sakit duluan langsung meninggal kan agak aneh gitu." Kartini menimpali.

"Terus? Nyonya Qionglin tidak ada panik-paniknya sama sekali gitu melihat karyawannya meninggal tiap bulan?" Tanyaku.

"Duh. Itu orang masa bodoh. Mau karyawannya mati tetap nyantai. Tidak ada ekspresi kehilangan atau berduka sama sekali. Gitulah, Acuh tak acuh sama keselamatan karyawan." Jawab Dian gusar.

"Bener tuh. Pak Condro yang supir pengantar kemarin resign. Ceritanya kan disuruh kirim ke Malang. Nahas dia mengalami kecelakaan. Mobilnya ringsek. Untung beliau cuma luka-luka ringan. Minta libur gak dibolehin, Malah besoknya disuruh ke Malang lagi pakek mobil lain. Udah gitu kecelakaan lagi, Untung masih diberi kesempatan hidup lagi. Nah setelah itu beliau langsung resigh. Katanya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan nyawa." Kartini pun mulai bercerita.

"Iya. Katanya sih kayak ada makhluk halus yang ngikutin. Yang menganggu perjalannya. Usut punya usut, Mertua Pak Condro kan kayak orang pinter gitu. Katanya Pak Condro mau dijadikan tumbal sama Nyonya Qionglin." Lanjut Dian.

"Hahh??" Yang lain pun terkejut mendengar cerita Dian.

"Hai. Hayo kalian gosipin juragan ya?" Seorang wanita paruh baya datang menghampiri kami.

"Eh Mbak Yu, Ngagetin aja!" Dengkus Aisyah.

Wanita bernama Yuni itu sudah satu tahun setengah bekerja disini. Dia juga membenarkan bahwa Nyonya Qionglin memakai pesugihan untuk memperlancar usahanya,

 “Si Nyonya itu memang memakai pesugihan, Nama pesugihannya kandang Bubrah. Tuh buktinya Nyonya Qionglin selalu merenovasi rumahnya, Padahal kalian tau sendiri rumahnya sudah bagus dan modern. Tapi ada saja bagian yang dibongkar lalu dibangun lagi. Setiap bulan selalu ada karyawan yang meninggal ditempat ini. Meninggalnya itu tidak wajar. Ini sudah terjadi sejak dulu.” Urai Mbak Yuni.

“Kalian tau? Aku sama Mbak Gina pernah disuruh mencari darah bayi. Lah aku jelas menolak dong. Eh kami malah dimarahi, Diancam dipecat. Akhirnya ya mau tidak mau kami meminta ke Bidan segelas darah bayi untuk dia. Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahwa juragan kita memakai pesugihan. Tapi mau gimana lagi gaes, Kami sangat membutuhkan perkerjaan ini untuk menyambung hidup. Ya meski nyawa jadi taruhan sih. Daripada nganggur kelaparan. Duh, Jaman sekarang nyari kerjaan sulit banget. Apalagi kami bagian produksi kan udah pada tua. Ijazah ya cuma tamatan SD, SMP. Jadi yawis Bismillah. Kita harus hati-hati.” Tambahnya.

Tak Berapa lama kami mendengar kabar bahwa Ajeng mengembuskan nafas terakhir. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kami pun menangis histeris. Tak menyangka bawa dia pergi secepat itu. Kami segera menghampirinya. Ternyata Nyonya Qionglin tak membawanya ke rumah sakit. Ajeng dibiarkan meninggal begitu saja. Darisitu aku yakin bahwa nyonya Qionglin benar-benar memakai pesugihan.

Keesokan harinya, Nyonya Qionglin memanggilku ke ruangannya. Dia memecatku tanpa sebab. Detik itu juga dia memberiku uang untuk pulang kampung. Setelah aku lihat dengan mata batinku. Kuntilanak yang pernah aku pelototi saat menaburkan sesuatu di piring Ajeng. Ternyata mengadu pada dukun yang mempekerjakannya. Nah, dukun tersebut meminta pada Nyonya Qionglin agar memecat ku. 

Karena dia tahu aku seorang indigo. Sepulang dari situ, Aku menceritakan semua pengalamanku dan cerita teman-temanku kepada Nenek di kampung. Lalu Nenek menyuruhku berpuasa selama tujuh hari. Serta mengadakan selamatan dan tahlil buat para korban seadanya. Beliau juga memberiku garam dan memintaku kembali ke tempat Nyonya Qionglin guna menaburkan garam tersebut. 

Agar masa pesugihannya segera habis. Akupun segera melakukan semua yang disarankan oleh Nenek. Satu bulan kemudian, tidak ada karyawan yang meninggal. Justru Nyonya Qionglin lah yang meregang nyawa secara tidak wajar dalam kecelakaan lalu lintas yang mengenaskan. Ia tidak memiliki anak, Sehingga hak waris jatuh ke keponakannya. Keponakannya memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Nyonya Qionglin. 

Dia baik, Dermawan dan tidak memakai pesugihan. Semua harta benda Nyonya Qionglin dijual. Sebagian diamalkan dan sebagian digunakan sebagai uang pesangon pekerja. Akhirnya para pekerja yang dulunya terpaksa bekerja pada Nyonya Qionglin, Kini mempunyai modal untuk merintis usaha mereka sendiri.

Masa kejayaan seseorang akan cepat sirna bilamana perbuatannya telah melampaui batas. Rugilah seseorang yang menghalalkan segala macam cara demi harta. Sebab harta bersifat sesaat dan tak akan bisa menyelamatkan seseorang dari karma buruknya.


KARYA : INTAN CAHYA