Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS Part 12 - intancahya.com

CERITA KELUARGA - CERITA SEBELUMNYA - Aldino pun terjatuh menuruni tiga buah anak tangga. Akhirnya Diffarina dengan sigap berhasil menghentikannya. Dia memeluk erat Aldino, Namun tubuh Diffarina semakin lemas. Seakan tenaganya habis setelah berlari menolong Aldino.

"Ya Allah Nyoya ada apa?" Tanya Bi Siti (ART) yang berlari tergopoh-gopoh paska mendengar suara Aldino terjatuh beserta teriakan Diffarina.

Wanita paruh baya itu segera menguatkan posisi Diffarina yang sudah tak kuat menyangga badannya. Disisi lain Bi Siti juga sibuk mengontrol Aldino agar tidak terjatuh.

"Tolong .. Tolong .. Tuminah, Karto, Ujang, Cepat kesini! Nyonya Diffa pingsan." Teriak Bi Siti memanggil asisten rumah tangga yang lain.

Mendengar teriakan Bi Siti, Para pekerja dirumah pun berhamburan menuju sumber suara. Mereka langsung menggotong Diffarina kedalam kamar. Pak Karto mengajak Aldino keluar agar tidak menganggu mamanya. Lalu menelpon dokter pribadi yang segera datang kelokasi.

BACA JUGA : ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PART 3


NOVEL intancahya
novel anak berkebutuhan khusus part12


"Tum. Tuan Edwin sudah bisa kamu hubungi belum?" Tanya Bi Siti pada Tuminah. Tuuut. Tuutt. Panggilan tak terjawab.

"Nomornya aktif, Tapi tak terjawab Bik. Padahal udah lima kali manggil." Jawab Tuminah yang mencoba menghubungi lagi namun hasilnya nihil.

"Udah ah, Mungkin dia lagi sibuk sama kerjaannya Bik." Pungkas Tuminah dilanjutkan dengan meletakkan ponselnya.

"Kalau ada apa-apa dengan Non Diffa bagaimana?" Keluh Bik Siti mulai cemas.

Dia sudah lama bekerja dengan keluarga Edwin dan Diffarina. Mereka sudah menganggap Bi Siti layaknya keluarga sendiri begitupun sebaliknya.

"Iya juga sih Bik. Takut juga Nyonya kenapa-kenapa. Tadi kirain cuma darah rendah tapi kok gak siuman. Tau gitu tadi langsung ke UGD aja." Ucap Tuminah menambah kepanikan keduanya.

"Selamat siang Ibu, Saya izin mau memeriksa kondisi Bunda Diffa dulu." Ucap Dokter Cantika memasuki kamar dilanjutkan dengan sigap mengeluarkan peralatan pemeriksaan.

"Siang Bu Dokter. Silahkan." Jawab Bi Siti dan Tuminah serentak.

Kemudian Dokter Cantika meletakkan stetoskopnya ke arah dada Diffarina. Dilanjutkan dengan mengecek suhu tubuh lalu denyut nadi dan serangkaian pemeriksaan lainnya.

"Tadi bagaimana kronologinya kok sampai pingsan?" Tanya Dokter Cantika.

"Saya kurang tau Bu Dokter, Tadi saya mendengar suara benda jatuh lalu Nyonya berteriak memeluk anaknya." Jawab Bi Siti.

Ujang pun segera memasuki kamar dan berkata,

"Permisi, Bu Dokter. Saya habis melihat rekaman cctv dalam rumah. Kronologinya bermula ketika Nyonya Diffa merasa mual-mual lalu dia merebahkan dirinya dishofa. Terus mengejar anaknya yang terjatuh dari tangga. Anaknya sudah terjatuh melewati tiga tangga, Untung Nyonya berhasil meraihnya hingga selamat. Tapi setelah itu Nyonya malah semakin lemas hingga tak sadarkan diri." Jelas Ujang, Sehabis memeriksa rekaman cctv.

Dokter Cantika tersenyum, Dia mulai menjelaskan kondisi Diffarina,

"Tenang saja ya. Bunda Diffarina tidak apa-apa. Semua hasil pemeriksaan normal. Kalaupun tadi sempat mual-mual berarti itu gejala-gejala mau dapat titipan."

Semuanya tersenyum lega. Terlebih mengetahui gejala-gejala kehamilan pada Diffarina.

"Alhamdulillah ..," Seru mereka serentak.

"Oh mangkanya, Tumben kemarin dia mendadak pingin diambilkan mangga muda dihalaman, Biasanya kagak pernah doyan, Hehe." Kata Ujang nyengir.

"Oh betul itu. Kemarin minta saya bikin rujak dengan mangga itu." Lanjut Bi Siti.

"Wahh. Ngidam rupanya Nyonya kita ini, Hehehehe." Timpal Tuminah.

"Mudah-mudahan seperti itu ya. Kita tunggu Bunda Diffa sadar dulu. Biar tes urine, Saya sudah feeling bawa tespek tadi." Jelas Dokter Cantika.

Hati Dokter Cantika bergemuruh. Bagaimanapun Edwin ialah mantan kekasihnya. Masih ada sisa cinta dan kecemburuan yang tertinggal dalam hatinya. Namun semua itu tak menggoncangkan pribadinya sebagai dokter profesional. Dokter Cantika dipilih oleh Diffarina sebagai dokter pribadi keluarga karena kecakapannya dalam bertugas.

Tentunya Diffarina tidak mengetahui bahwa Dokter Cantika adalah mantan kekasih suaminya. Dokter Cantika tergerak untuk menelpon Edwin. Dia hendak memberi informasi tentang kondisi Diffarina. Selain itu terselip rasa rindu untuk berjumpa. Wanita lajang berusia tiga puluh dua tahun itu memiliki fisik yang tidak kalah cantik dengan Diffarina. Dia belum menikah karena belum move on dari sosok Edwin.

Hanya saja waktu itu orangtuanya tak merestui hubungannya dengan Edwin karena Edwin belum mapan. Sekarang dr Cantika hanya melongo melihat Edwin sukses menjadi kontraktor dan mendapatkan istri paket lengkap serta tajir melintir.

Mengetahui mendapat panggilan dari dr. Cantika, Edwin langsung mengangkatnya.

"Halo Cantika, Ada apa? Bagaimana kabarmu?" Kata Edwin dari sambungan telepon sedikit salah tingkah.

"Kabarku baik Mas, Eh maaf maksud saya Pak. Kondisi istri bapak yang sedikit kurang baik. Bunda Diffarina baru saja pingsan ..."

"Apa?" Potong Edwin panik.

"Saya segera pulang kerumah sekarang." Lanjutnya langsung menutup telepon.

Sementara Edwin masih dalam perjalanan. Diffarina pun terbangun. Seperti yang dianjurkan dokter Cantika, Diffarina mengambil sampel urine untuk tes kehamilan. Lima menit Dokter Cantika melakukan tes.

"Sudah selesai." Ujarnya.

"Bagaimana hasilnya Dok?" Tanya Diffarina



Bersambung cerita selanjutnya

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS PART 13


KARYA : INTAN CAHYA