Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS part 3 - intancahya.com

KISAH KELUARGA - CERITA SEBELUMNYA Matahari semakin meninggi membuat hawa dibumi panas sekali. Namun mereka tak kunjung menemukan dimana Luluk pergi. Satu persatu para tetangga berpamitan pulang. Tinggallah Marni, Joko, dan Bi Asih.

"Udahlah dik. Capek nyari. Seumpama anak kita tidak kembali lagi ya kita harus ikhlas dik. Pasti Tuhan memberi kita anak lagi yang lebih baik". Bisik Joko pada Marni.

"Heh! Ikhlas Gigimu! Biar Luluk selalu membawa sial tapi aku gak rela dia hilang. Gitu-gitu aku ngelahirin dia setengah mati sakitnya. Kamu mana paham".

"Astaghfirullah, Kasihan sekali Luluk. Punya orang kayak gini. Ya Allah gimana Luluk bisa berkembang lebih baik kalau kedua orangtuanya begini?". Gumam Bi Asih dalam hati.

Disisi lain. Disebuah rumah mewah dan megah milik seorang kontraktor. Luluk terbaring lemah. Dia belum sarapan. Tadi dia berlari sekencang mungkin tidak jelas arah dan tujuan. Dalam benaknya hanyalah ketakutan melihat orang-orang disekitarnya bertengkar dan melakukan kekerasan. Dia pun sering menjadi korban kekerasan kedua orangtuanya.

Dia selalu menjadi pelampiasan amarah kedua orangtuanya ketika marah. Dia juga selalu menjadi bahan hujatan para tetangganya karena lain daripada anak-anak disekitarnya. Begitulah Luluk hidup dilingkungan kontrakan kumuh (tidak sehat). Semua orang disana minim akan pendidikan dan pengetahuan. Ditambah dengan kondisi ekonomi dibawah rata-rata. Mereka gampang tersulut emosi satu sama lain.

Luluk tidak pernah bisa memilih terlahir dimana dan menjadi anak siapa. Perihal guncangan jiwa yang kerap dia alami juga bukan kesengajaanya. Namun dia tidak bisa menghentikan perlakuan orang-orang yang sering menyalahkannya.

novel anak berkebutuhan khusus part 3
NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS part 3


Andai Luluk bisa memilih, Mungkin dia akan memilih terlahir menjadi anak dari pasangan suami istri yang menolongnya pagi tadi. Yakni Pasangan Edwin Hatmono dan Diffarina Kitaro. Edwin adalah seorang kontraktor sukses yang memiliki banyak proyek. Sementara Diffarina Kitaro adalah putri tunggal dari Kitaro Jinsei Jion, Pengusaha elektronik asal Jepang yang ternama dan berjaya.

Tidak hanya berkelimang harta, Namun keluarga besar mereka juga berkelimpahan kasih sayang. Kebahagiaan bertambah dengan kehadiran cucu laki-laki pertama yang bernama Aldino Hatmono. Begitu tampan dan menggemaskan. Setelah lima tahun berlalu, Mereka sempat bersedih setelah mengetahui bahwa Aldino termasuk anak istimewa (ABK). Namun hal itu tidak mengurangi kasih sayang mereka terhadap Aldino. Mereka pun mendukung penuh tumbuh kembang Aldino.

Mulai dari memberinya seluruh fasilitas anak. Pendidikan (terapi ABK sejak dini), Rutin berkonsultasi dengan psikolog. Sampai menyediakan psikolog pribadi untuk Aldino. Akhirnya mereka bahagia dengan anugerah anak istimewa yang hadir dalam hidup mereka. ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) bukanlah musibah, Bukan pula aib. Tapi dia istimewa. Barang siapa dengan tulus mewaratnya Niscaya Tuhan akan memberkati hidupnya, Dia lancarkan segala urusannya dan Surga pun menantinya.

Perlahan Luluk membuka mata. Tubuhnya dingin terkena AC. Dia berbaring dikasur yang sangat empuk dan luas. Dia menyentuh pakaian bagus yang dikenakannya berbeda dari pakaian sebelumnya. Dia menatap sekeliling. Sungguh ruangan megah dengan hiasan langit-langit bertema awan. Aroma ruangan bunga lavender membuat moodnya membaik.

Dihadapannya terdapat TV lcd yang besar. Dia melihat taman yang indah dan kolam renang dari cendela. Dia menoleh kesamping terdapat meja kecil yang penuh sajian makanan. Karena perutnya sangat lapar Luluk segera melahap salmon, Disusul dengan makan roti, Diselingi dengan meminum segelas susu sapi.

"Sayang kamu sudah bangun". Sapa Diffarina memasuki kamar dan diikuti oleh Edwin.

"Bruak" . Luluk terkejut , Dia merasa begitu takut bertemu dengan orang baru. Dia bersembunyi dibalik selimut

"Mah. Dia takut sama kita". Bisik Edwin.

Diffarina pun tetap mendekatinya. Sementara Luluk kembali menangis dibalik selimut. Diffarina membelainya dengan lembut lalu bertutur,

"Cup cup anak cantik. Anak cantik, Anak baik, Anak sayang. Kalau nangis gak bisa makan dong. Tuhh makanannya gak ada yang makan".

Beberapa saat kemudian Luluk membuka selimutnya lalu menghabiskan semua makanan dengan cepat, Belepotan serta makanan berceceran kesana kemari. Edwin bengong melihat cara makan Luluk. Ketika hendak mengingatkan, Diffarina mencegahnya.

Seusai makan, Diffarina menyodorkan minum kepada Luluk. Luluk meminumnya. Diffarina melanjutkan membersihkan wajah dan tangan Luluk dari bekas makanan. Kini Luluk tidak takut lagi dengan pasangan suami istri tersebut. Luluk menangkap cinta dan ketulusan dari seorang Diffarina.

"Nama kamu siapa sayang?".Luluk hanya senyam-senyum meresponnya.

"Sayang. Silahkan dilemari situ banyak mainan. Kamu disini dulu ya. Bunda mau keluar sebentar". Kata Diffarina sembari menggandeng Edwin keluar kamar. Luluk pun mengangguk setuju. Dia teramat senang melihat banyak mainan bagus dan canggih yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

"Papi. Sepertinya aku menemukan gejala-gejala ABK pada anak tersebut". Kata Diffarina yang sedikit banyaknya mempelajari tentang ABK.

"Oh ya kah? . Mami tau darimana? Dari tingkahnya ya?". Tanya Edwin.

"Sudah terlihat dari wajahnya Pi. Wajah, Dahi, Hidung tampak lebih datar. Kepala, mulut dan telinga berukuran lebih kecil, Hidung tampak pesek. Ujung matanya mengarah ke atas dan memiliki lipatan kulit pada kelopak mata atas yang menutupi ujung dalam mata". Jelas Diffarina dengan lancar.

"Tapi wajahnya familiar loh mam. Hampir anak yang memiliki kebutuhan khusus wajahnya kok mirip-mirip" .

"Yups betul pap. Itu khusus penyandang syndrom down face. Mereka punya wajah yang khas. Kalau Aldino termasuk dalam kategori yang lain pap. Aldino masuk ke ADHD". Jelas Diffarina lagi.

"Bagaimana kalau kita panggil Bu Eliz untuk mengkonsultasikan keadaan psikologisnya?" Tambahnya. Edwin pun membantah.

"Repot sekali kamu sayang. Kenapa kita tidak lapor polisi saja supaya anak tersebut bisa berkumpul dengan keluarganya lagi?".

"Lihatlah penampilannya tadi. Apa mungkin dia masih memiliki keluarga. Dia terlihat seperti seorang anak terlantar. Jika masih memiliki keluarga, Jika tidak mampu maka mana mungkin menyisihkan uang untuk berkonsultasi dengan psikolog". Tukas Diffarina.

"Terus ? Kamu mau kita yang ngurus dia gitu?". Tanya Edwin keheranan Diffarina mengangguk. "Minimal sementara. Please".

"Hahaha sayangku. Kamu serius?" Edwin tertawa sembari memegang kedua tangan istrinya. Dia menghadap istrinya dan berbisik

"Dirumah sudah ada Aldino. Itu saja hebohnya minta ampun. Kadang kalau dia lagi menguji kesabaranku. Aku sampai emosi. Lah kamu mau nambah anak ABK LAGI dirumah ini".

Melihat kedua mata istrinya berkaca-kaca, Edwin menghentikan perkataannya.

"Oke oke. Aku percaya naluri keibuan kamu sangat luar biasa. Tapi kita masih punya orangtua kan?. Gak enak kalau mengambil keputusan ini tidak minta izin dulu ke orangtua. Kamu minta izinlah sama ibu. Kalau dia setuju. Silahkan. Tuh ibu sudah nunggu kita makan dimeja makan".

Diffarina kembali bersemangat. Rencana baiknya masih mungkin mendapat lampu hijau. Dia berharap ibu mertuanya setuju.

"Baiklah kalau begitu pap. Ayo".

cerita selanjutnya

PART 4 anak berkebutuhan khusus beda kasta beda fasilitas