Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS part 4 - intancahya.com

KISAH KEHIDUPAN - cerita sebelumnya Sesampai dimeja makan. Diffarina mencium tangan Ibu Hj Mardiyah selaku ibu mertuanya. Wanita kelahiran Minang tersebut telah merantau bersama suaminya (Alm H Hatmono) ke Jakarta sejak dua puluh delapan tahun yang lalu. Mereka berjuang dari nol. Mulai dari makelar tanah, Sampai terjun sendiri dalam bisnis properti jual beli tahah.

Kerjasama dalam pembangunan perumahan. Kini dimasa tua mereka memiliki duaratus kamar kos beserta seratus limapuluh rumah kontrakan. Dari yang mewah hingga yang kumuh. Ibu Hj Mardiyah baru datang dari menarik uang sewa kini mampir kerumah anak semata wayangnya. Seperti biasanya. Hal pertama yang diatanyakan adalah keberadaan cucunya..

"Dimanakah Cucu Umi ni?"

"Sedang terapis ABK Umi. Sebentar lagi kami mau menjemputnya." Jawab Edwin sembari mengambil berbagai lauk yang tersedia dimeja.

"Sampai kapanlah kiranya cucu Umi harus terapis terus?" Tanya Ibu Hj Mardiyah yang belum terlalu paham akan ABK.

"Kamu tau Umi berdoa siang malam supaya cucu Umi bisa normal seperti anak-anak yang lain." Imbuhnya.

Degg ... Ucapan Ibu Hj Mardiyah bagaikan sirine yang mengingatkan pasangan Edwin dan Diffarina akan ketidaknormalan buah hati mereka.

"Terimakasih atas doa-doa Umi. Diffa yakin Tuhan pasti mendengar doa kita semuanya. Alhamdulillah tumbuh kembang Aldino berangsur membaik Mi. Dia sudah paham instruksi, Sudah bisa lebih disiplin dan mau bersosialisasi, Kemampuan motoriknya juga ada peningkatan. Dia sudah bisa belajar sambil bermain. Kini dia sudah bisa kami tinggal saat belajar ditempat terapis. Dulu sama sekali tidak bisa ditinggal." Jelas Diffarina dengan penuh pengertian.

Ibu Hj Mardiyah menghela nafas panjang. Ia belum cukup puas mendengar kondisi cucunya.

BEDA KASTA BEDA FASILITAS
novel anak berkebutuhan khusus beda kasta beda fasilitas part 4


"Kalean yang sabar ja ya. Aku pun macam tak sabar tengok cucuku tercinta bisa sembuh dan masuk ke sekolah umum. Dah capeklah aku tengok dia sikit-sikit psikolog, Sikit-sikit psikolog!"

Lagi-lagi ucapan Ibu Hj Mardiyah bagikan jarum yang menusuk telinga lalu menancap di ubun-ubun. Rasa ngilu dalam kepala Edwin tak terelakkan. Ia bukan hanya ingin membantah ucapan Ibundanya. Tapi ia ingin membantah takdir bahwa anaknya termasuk ABK.

"Umi nak mau beri nasihat sama kalean. Terutama kau Edwin. Sudah jujur kah kau jadi kontraktor selama ini? Jangan sampai kau tipu dan kau korupsi dana proyek! Apalagi sampai gaji tukang dan kuli berkurang. Awaslah! Jangan sampai balik keanak kau sendiri!." Ujar Ibu Hj Mardiyah dengan logat Melayu yang khas.

Sementara Edwin besar di Jakarta. Menjadikan logat Ibu dan anak ini berbeda.

"Umi ini ngomong apa ya?" Edwin mengernyitkan keningnya. Dia menghentikan makan sebentar.

"Semacam tak mengenal anaknya saja!" Tukas Edwin diikuti dengan meminum jus jeruk didepannya. Sang Ibu pun berkata lagi,

"anakku janganlah kau tersinggung! Ibu hanya menasehatimu saja. Umi paham kau dari dulu jujur. Tapi kalau urusannya melibatkan uang banyak kan Umi tak paham. Barangkali kau khilaf hayolah insyaf. Itu saja maksud Umi."

Melihat ekspresi suaminya sedikit gusar. Diffarina pun mencoba menenangkan,

"yang dikatakan Umi ada benarnya Pi. Maksudnya bekerjalah berlandaskan kejujuran dan kemanusiaan. Kalau kita berbuat tidak baik kita sendiri yang akan memanennya. Seorang orang tua pasti memberikan nasehat yang terbaik buat anaknya."

"Nah itu Diffa paham." Cetus Ibu Hj Mardiyah.

"Iya kalau itu juga aku mengerti. Kamu kalau mau ngomong sama Umi. Ngomong saja!" Kata Edwin pada Diffarina.

Diffarina pun menceritakan pengalamannya menolong Luluk. Dia mengungkapkan bahwa hatinya terketuk dan ingin serta mengadopsi Luluk terlepas dari kondisi gadis tersebut sebagai anak ABK. Diffarina menyayanginya tanpa sebab. Sayangnya mendengar hal itu membuat Ibu Hj Mardiyah tersedak.

"Gruk .. gruk.. gruk .." Disahutnya segelas air putih lalu meminum. Ibu Mardiyah kembali menghela nafas panjang .

"Astaghfirullah Diffa. Kau serius nak mengadopsi ...,"

"Astaghfirullah Diffa menantu awak yang cantek! Janganlah kau bunuh diri dalam jurang yang sama. Tak lah! Tentu saja Umi tak setuju. Umi mau cucu yang normal! Ya Allah cukup Aldino saja yang begitu! cukup! Huhuhuuuuhuuuuuu." Ibu Hj Mardiyah menentang dengan keras, Sampai tak sadar menangis menjerit-jerit.

Bulir bening ikut menetes dari pelupuk mata Diffarina. Tanpa mertuanya mengerti ucapannya secara tidak langsung memandang ABK sebelah mata.

"Umi tau kau wanita berhati mulia. Tapi janganlah kau kumpulan lagi anak yang semacam itu! Anakmu pun sudah begitu kan? Merawat anak normal saja berat. Apalagi yang tidak. Bagaimana masa depan kalean. Mampu tak anak yang tak normal merawat kalean balik dihari tua. Bagaimana dengan usahaku, Apalagi perusahaan papamu yang besar itu. Anak-anak macam tersebut mengurus diri mereka sendiri pun tak mampu!" Cecar Ibu Hj Mardiyah.

"Sudah Umi. Sudah. Umi jangan memojokkan Diffa seperti itu! Kalau Umi tidak setuju ya sudah. Kami tidak jadi mengadopsinya. Tapi jangan marah-marah lah sama Diffa" Tenang Edwin sambil mengelus pundak Ibunya.

"Umi Diffa minta maaf, Kalau Diffa belum bisa mewujudkan harapan Umi memiliki cucu yang normal. Baiklah kalau Umi tidak setuju, Diffa ikuti apa kata Umi." Kata Diffa terisak.

"Ya sudah sama-sama. Umi juga minta maaf, Lepas kontrol tadi." Ucap Ibu Hj Mardiyah menurunkan nada bicaranya.

"Kami mau jemput Aldino dulu ya Mi. Sekalian mau nganterin gadis tadi konsultasi ke psikolog, Hitung-hitung membantu. Lalu sepulang dari sana kami akan menyerahkan dia kekantor polisi atau ke dinsos. Supaya cepat bertemu keluarganya." Pamit Edwin.

Ibu Hj Mardiyah mengangguk. Edwin dan Diffarina pun berpamitan pergi. Sebuah mobil sport Lamborghini melintas dijalankan Jakarta. Dikendarai oleh Edwin, Diffarina dan Luluk dengan cendela full terbuka. Semua mata tertuju pada mereka. Seorang laki-laki tampan dan istri cantik, Putih, Mulus beserta anaknya terlihat bag keluarga bahagia dan kaya-raya. Tanpa oranglain paham sisi susahnya. Tiba-tiba dilampu merah. Sesorang berteriak,

"maling anak! Tolong ..., tolong ..., Ada penculikan anak!" Sembari menunjuk kearah Edwin dan Diffarina.

Sontak semua pengendara berhenti dan berlari mengerumuni mereka.

Bersambung ke cerita selanjutnya

baca juga part 5 anak berkebutuhan khusus beda kasta beda fasilitas


KARYA : INTAN CAHYA