Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS part 2 - intancahya.com

CERITA KEHIDUPAN - cerita sebelumya"Ya Allah Marni. Kamu apakan anakmu ini?. Ya Allah..". Peluh Bi Asih sambil menyahut Tubuh Luluk yang hendak dijungkir Marni diatas bak mandi. Bi Asih memeluk Luluk erat,

"Cup..cup sayang." Tenangnya sembari menyeka deras air mata yang mengalir dipipi Luluk. Lalu Bi Asih menatap Marni tajam.

"Heh Marni. Kamu sudah gila apa? Kok sampai hati kamu jungkir anakmu sendiri ke bak mandi? Apa kau mau membunuhnya?"

"Ya Ampun Bik Asih. Itu cuma gertakan saja. Bibi gak pernah ngerasain ya punya anak kurang ajar. Selalu bikin masalah, Tingkahnya banyak. Kemarin lipstikku seharga 300 ribu dicoret coret ke dinding sampai musnah. Handphoneku seharga 5 juta dibanting sampai retak. Terus Minggu kemarin itu tas brandedku seharga 3 juta dijebolin. Belum lagi tiap hari seisi rumah dibuat dia berantakan. Bibi tau nggak sih kalau lipstik, Handphone, Tas branded itu aku dapat dari kredit. Aku nyicil mati-matian belum lunas sudah amblas!". Cerita Marni dengan lantang. 

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
AKUN KBM 


"Ya kamu yang sabar to Marni. Namanya punya anak kecil ya harus telaten njagainnya. Ketahuan banget kalau kamu nggak jagain anakmu, Buktinya sampai bikin berantakan kayak gitu. Lagipula punya duit daripada buat beli barang-barang mahal mending kasih ibumu buat bantu makan sehari-hari!". Bantah Bi Asih.

"Haduuhh Bi Asih, Aku tuh kerja. Pulang kerja capek pingin istirahat. Luluk juga biarin dijaga sama ibuk. Toh ibuk sama bapak juga gak bisa kerja dan gak pernah memberi aku hidup yang layak dari dulu. Orang aku kerja ya tak apalah ngikutin trend. Soal uang belanja ibuk ya kalau ada sisa. Lagipula anaknya ibuk kan bukan aku aja!". Cetus Marni. 

"Astaghfirullah. Itu mulut apa rongsokan!. Jangan seperti itu kalau bicara. Mau bekerja atau tidak, Kamu tetap seorang ibu. Kamu sudah punya anak. Bersikaplah keibuan agar menjadi contoh yang baik buat anakmu. Sudah pelanin dikit suaramu. Malu didengar tetangga. Gak suka kan jadi bahan gunjingan orang!". Nasehat Bi Asih dengan prihatin.

 BACA JUGA :

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS BEDA KASTA BEDA FASILITAS Part 10

"Persetan sama tetangga! Kampungan! Tiap hari kerjaannya cuma gibahin orang. Lihat aja biar aku kasih pelajaran!". Marni justru mengeraskan suaranya seolah darahnya mendidih mendengar Bu Asih bicara soal tetangga.

Marni segera keluar rumah tepat saat gerombolan ibu-ibu asyik membicarakannya.

"Eh jangan.. jangan!" Bi Asih pun panik. Ia segera menyusul Marni sambil menggendong Luluk. Sesekali ia menenangkan Luluk yang masih menangis. 

"Heh asu! Babi! Kalian semua! Busuk mulut kalian semua! ". Teriak Marni melawan orang-orang yang lengah menghibahnya. Mereka langsung terdiam kaget kalau ada Marni tiba-tiba muncul. 

"Heh Marning jagung! Awakmu kesambet opo? Datang-datang kok langsung wiridan hewan hewan!". Tegur Mak Iyem. 

"Kesetanan ya". Celetuk Bu Lastri.

 "Dih.. Kumat!". Celetuk yang lain. 

"Diaaaaaammm ! Kalian semua sudah keterlaluan! Setiap hari ngomongin saya. Memang saya punya salah apa sama kalian? Saya tidak pernah ngurusin hidup kalian kan?". Hardik Marni kesal.

"Sudah Nduk, Ayo masuk, Jangan marah-marah seperti itu ah, Tidak baik". Tutur Bi Asih lembut.

"Boro-boro ngurusin tetangga, Ngurusin anak, Masak, Nyuci piring sendiri aja nggak pernah". Balas Bu Lastri lantang.

Marni pun maju menyerang Bu Lastri. Dia menjambak rambu Bu Lastri yang panjang terikat.

"Tau apa kamu tentang hidupku?. Habis kesabaranku punya tetangga tai tak kayak kamu". Marni semakin kuat menarik rambut Bu Lastri kebelekang. Sontak kepala Bu Lastri ikut tertarik menghadap atas.

"Aaaa ..". Pekik Bu Lastri kesakitan. Ia segera membalas. Dijambaklah rambut Marni dari samping dengan tenaga ekstra. Marni pun kehilangan keseimbangan. Keduanya tersungkur ketanah.

"Bruakk!!".

"Aduh aduh.. Bagaimana ini?" . Yang lain mulai panik.

"Biarin saja. Seru". Ujar Mak Sundari.

"Kamu yang main tangan duluan!". Teriak Bu Lastri sembari menumpangi tubuh Marni.

"Kamu yang bacot duluan!!". Teriak Marni diikuti sebuah tonjokan.

"Plaakkk!!" .

"Plaakkkk!! Jlebb". Balas Bu Lastri menghantam Marni. Wanita 38 tahun itu tidak mau kalah.

Adu mulut beserta adu jotos pun tak dapat terhindarkan.

"Huhuhuuuuhuuuuuu!!". Tangis Luluk semakin pecah melihat keributan yang ada dihadapannya. 

Hal itu membuat Bi Asih mengurungkan niatnya untuk memisah Marni dan Bu Lastri. Dia memilih membawa Luluk ketempat yang lebih tenang alias membawanya ke kontrakan Marni. Dia juga segera membangunkan suami Marni. Biar dipisah oleh suaminya sendiri.

"Duduk disini sebentar ya sayang. Tak bangunkan dulu bapakmu".

Bi Asih meletakkan Luluk diatas kursi diruang tamu.

Tok tok tok.

"Joko.. Joko.. Bangun !. Istrimu berantem!". Teriak Bi Asih sekeras mungkin.

"Hhuueeekkkk.. Iya sayangku, Mas lagi otw sayang". Jawab Joko dalam posisi ngefly (habis mabuk-mabukan).

Dia pun tidur lagi. Ngorok lagi. Bi Asih mulai kesal dan mengarang berita hoaxs.

"Joko! Bangun! Kebakaran! Kebakaran! Bangun atau kamu mati terpanggang!" .

 "Byyuurr..." Joko pun membuka pintu kamar dan menyiram air dalam teko kesembarang arah dan akhirnya mengenai Bi Asih.

"Kurang ajar. Kamu kenapa siram saya!"

"Loh Bibi. Katanya kebakaran? Mana apinya? Mana?". Joko gelagapan.

Bau tuak semerbak. Bi Asih paham kalau suami keponakannya habis mabuk. Dia menahan amarahnya. Percuma marahin orang mabuk.

"Gak ada api ! Yang ada istrimu tuh berantem sama Lastri depan rumah si Lastri. Buruan samperin!". Perintah Bu Asih. 

Joko segera berlari.

"Pakai celanamu dulu kampret!". Bentak Bi Asih.

Joko tersenyum . Dia baru sadar dia lupa memakai celana panjang. Dia segera memakai dan berlalu.

Bi Asih kembali keruang tamu untuk menenangkan Luluk. Namun Alangkah terkejutnya bahwa ia tidak menjumpai Luluk diruang tamu. Dengan tergesa-gesa dia berlari menuju kerumunan orang yang menyaksikan keributan Marni dan Bu Lastri. Namun alangkah terkejutnya dia pun tak menjumpai Luluk disana. Rupanya mereka sudah berhenti bertengkar. Meskipun masih cekcok secara lisan.

"Ada yang tau Luluk dimana". Tanya Bi Asih deg-degan.

"Tadi kan sama kamu Sih". Jawab Mak Rom.

"Iya saya masih ingat dia kamu gendong kerumah Marni" . Ujar Mak Iyem.

"Iya tapi anu dia tiba-tiba tidak ada, Padahal tadi tak taruh diruang tamu sebentar".

"Ya ampun Asih. Gimana kalau dia diculik". Celetuk Mak Sundari.

"Gak ada yang mau sama anak idiot produk orang gila, Yang ada setres sendiri ngerawatnya!" . Ujar Bu Lastri penuh kebencian.

"Diam kau Lastri. Kita lanjutkan besok. Aku mau cari anakku dulu!". Balas Marni.

Bi Asih , Marni, Joko, dibantu dengan ibu-ibu yang lain kecuali Bu Lastri keliling kampung mencari Luluk. Namun tidak ditemukan juga.

Kemana perginya Luluk?  

Bersambung ke cerita selanjutnya

baca juga : part 3 anak berkebutuhan khusus beda kasta beda fasilitas

 

 

KARYA : INTAN CAHYA