Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 21 | intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - "Wusshh. Anak berkebutuhan khusus coy." Bantah Andre.

"Ya begitulah pokoknya. Gimana mau punya anak normal kalau kelakuannya saja kayak gitu. Menipu, Memeras, Menindas!" Jawab Eko.

NOVEL CERITA INTANCAHYA

CERITA _ BAGIAN 21

"Memang orang hidup itu ibarat yang menanam ya pasti memanen. Kalau menanamnya yang buruk ya hasilnya, Entah itu buah hatinya jadi seperti itu kualitasnya. Ya bukan maksud mendoakan jelek. Tapi namanya juga mengambil hak orang lain itu tidak bakal enak hidupnya, Sekalipun kaya." Ucap Pak Karib.

"Betul itu Pak betul. Gak bakal barokah, Udah nipu orang. Memeras keringat pekerja kelas bawah kayak kita. Kita semua sebenarnya terpaksa kerja disini Bang, Tapi ya mau bagaimana lagi daripada jadi pengangguran. Ada keluarga yang harus dihidupi!"

Andre menghela nafas panjang mendengar cerita para kawan-kawan kerjanya. Andre yang terkenal pemberontak saat ditindas rupanya harus menurunkan egonya agar tetap bekerja daripada melawan berujung PHK lalu menganggur karena tidak segera mendapatkan pekerjaan lagi seperti yang terjadi sebelumnya.

Tiga tahun kemudian.

Luluk memasuki usia lima tahun. Tiba bagi Marni untuk menyekolahkan di Taman Kanak-kanak. Luluk sudah bisa berbicara walaupun masih belum lancar. 

Hari pertama masuk sekolah. Luluk diantar oleh Mbok Nah dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan Luluk minta gendong. Sesampai disekolah pun Luluk masih tidak mau turun dari gendongan. Ia begitu takut akan banyaknya orang yang ia jumpai disana.


"Ayo Nak! Turun Nak! Sudah masuk, Luluk harus sekolah." Bujuk Mbok Nah dengan nafas terengah-engah karena kecapekan mengendong Luluk.

"Huhuhuuuuhuuuuuu. Gak mau. Huhuhuuuu" Tangis Luluk dengan lantang sembari menutupkan kedua tangannya kewajah.

Datanglah Bu Ayu, Guru TK AL ANWAR menghampiri mereka,

"Loh kenapa sayang? Hayuk turun yuk, Kita belajar sambil bermain dulu anak cantik?" Bujuk Bu Ayu hendak mengambil alih Luluk dari gendongan Mbok Nah.

Brreeekk. Luluk menendang Bu Ayu hingga Bu Ayu kesakitan.

"Aduh. Kok ibu guru kok ditendang." Keluh Bu Ayu.

"Ya Allah. Maaf Bu, Maaf." Ucap Mbok Nah diikuti Bu Ayu mengangukkan kepala pertanda iya.

"Luluk! Kamu tidak boleh begitu! Ayo turun!" Mbok Nah pun menurunkan Luluk secara paksa dan segera membalikkan badan.

Srrrrt. Buugghh.

Ditariknya rok Mbok Nah oleh Luluk sehingga Mbok Nah terjatuh. Luluk pun terus menariknya karena takut Mbok Nah meninggalkannya.

"Ya Allah Luluk. Jangan gini Nak! Ayo bangun! Sekolah Nak, Masuk Nak!" Keluh Mbok Nah.

"Huhuhuuuuhuuuuuu gak mau! Gak mau Mbahh!" Tolak Luluk dengan tangisan histeris.

"Mbah laporin ke Mamamu nanti loh ya, Kalau kamu bandel begini!" Ancam Mbok Nah.

Ditengah kegaduhan antara Luluk dan Mbok Nah. Bu Ayu segera menelpon Marni selaku orang tua Luluk. Lima belas menit kemudian Marni datang dengan wajah merah padam. 

"Luuluuuukkkkkkkk ...," Teriak Marni dengan lantang memecahkan suasana belajar mengajar disekolah.

Mengetahui anaknya masih bersitegang dengan Mbok Nah. Marni dengan langkah gontai menghampiri lalu dengan cepat menjambak rambut Luluk.

"Anak kurang ajaar!" Bentaknya membuat Luluk makin menjerit,

"Aaaaaaaaa .., epas Ama! Akitt!"  ("Lepas Mama, Sakit")

"Biarin! Nangis terus sampai mati! Nangis terus iihhh." Lanjut Marni mengeroyok Luluk.

"Sudah Mar! Malah nambah gak mau sekolah kalau begitu." Ujar Mbok Nah.

"Anak gak tau diuntung! Disekolahkan biar pintar, Malah kayak gini kamu ya! Mau jadi apa kamu?"
Plakk. Plakk. Pukul Marni pada Luluk.

"Sudah Marni. Jangan dipukul begitu! Anakmu masih kecil." Mbok Nah segera menyahut Luluk kepelukannya.

"Begitulah Ibuk terlalu memanjakan Luluk! Akhirnya jadi anak kurang ajar seperti itu!" Bentak Marni pada Mbok Nah.

"Sini!" Bentak Marni lagi sambil merebut Luluk dari Mbok Nah.

"Tidak! Nanti kau pukuli anakmu layaknya kau pukul maling huhuhu." Bantah Mbok Nah ikut menangis bersama Luluk.

"Sini Buk! Ibuk itu tidak pernah becus ngurus anak! Jangan sok jadi pahlawan!" Bentak Marni semakin keras.

Semua orang ditaman pendidikan berhamburan melihat mereka. Sebagian ada yang melerai. Termasuk Bu Halimah selaku kepala sekolah. Akhirnya antara Marni dan Mbok Nah pun terdiam tinggallah Luluk yang masih menangis.

"Ada apa ini ibu? Kenapa harus bertengkar seperti ini?" Tanya Bu Halimah dengan sabar.

"Ini loh Bu. Anak saya tidak mau masuk kelas. Saya paksa malah gak boleh sama Mbahnya!" Celetuk Marni.

"Ya maksa jangan kasar-kasar gitu! Sampek mukul kepala, Dasar ibu gak punya otak!" Timpal Mbok Nah.

"Sudah. Sudah! Apapun kejengkelan ibu-ibu semua kepada anak, Tolong jangan memukul kepala! Kepala itu bagian yang amat signifikan, Terutama dalam masa perkembangan anak. Memukul satu kali saja bisa membunuh ratusan tumbuh kembang sel-sel pada otak. Paham?" Tutur Ibu Guru Halimah yang disimak dengan baik oleh seluruh orang disana.

Tiba-tiba Luluk berlari kabur. Marni dan para guru pun mengejarnya. Sayangnya Luluk begitu gesit sehingga sampai pada jalan raya. Tanpa melihat sekitar, 

Brruuaaakkk!


baca juga :

Bersambung ke cerita selanjutnya