Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

NOVEL ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS 20 | intancahya.com

CERITA SEBELUMNYA - Seluruh penghuni klinik gempar akan kehilangan Luluk. Tiba-tiba

"Assalamualaikum.." Ucap Baryono sambil menggendong Luluk ke klinik.

HAhh?"

NOVEL CERITA INTANCAHYA


CERITA BAGIAN 20

"Haahh?" Marni, Joko dan Mbok Nah pun serentak terkejut.

"Loh. Ini kan ananda Luluk yang dikabarkan hilang tadi ya?" Tanya seorang petugas kesehatan.

"Betul. Tadi dia berkeliaran dijalan depan Apotek dr Cantika. Kebetulan saya lewat kok seperti saya kenal. Saya juga ingat kalau neneknya dirawat disini. Jadi langsung saja saya bawa kesini." Jelas Baryono berbohong sebab dia telah melakukan tabrak lari terhadap mobil penculik Luluk.

"Wahh. Kok kami semua tidak tau ya Pak. Padahal sudah bolak-balik cari disana." Ucap Joko.

"Kok bisa lepas pengawasan anakmu ini Jok? Hati-hati lain kali!" Nasihat Baryono.

"Ibu itu loh! Sembarangan percaya sama orang. Tadi itu penculiknya nyamar jadi perawat gadungan! Cucunya digendong langsung dikasih percaya!" Celoteh Marni.

"Sudah. Namanya juga orang gak tau Sayang eh maksudnya Marni. Ibu kamu kan tidak tau. Maklumi ajalah." Gugup Baryono yang keceplosan manggil Marni sayang.

Untungnya Joko tidak terlalu berprasangka buruk terhadap istri dan Bapak kosnya.

"Ya sudah. Saya permisi dulu, Saya akan menginformasikan kalau ananda Luluk sudah ditemukan." Ujar seorang tenaga kesehatan kemudian berlalu.

Keesokannya Andre telah bergabung dibawah naungan perusahaan kontraktor milik Edwin. Andre berada dibawah kepemimpinan seorang mandor bernama Januar.

"Anak baru? Siapa namamu? Rumahmu dimana?" Tanya Januar, 

Lelaki berusia 34 tahun itu memandangi sosok Andre dari ujung rambut hingga keujung kaki. Membuat Andre tak suka. 

"Andre Bang. Jakarta." Jawab Andre.

"Ya sudah. Kamu tau gaji jadi kuli disini berapa?" Tanya Januar.
Andre mengeleng belum tau.

"Saya kasih tau. Gaji jadi kuli disini tujuh puluhribu, Kalau kamu sudah pintar belajar jadi tukangnya. Gaji tukang sehari sembilan puluh lima." Jelas Januar.

"Loh kok beda dengan tempat lain Bang?"

"Beda bagaimana?"

Andre menjelaskan,

"Lalu ditempat lain gaji kuli sehari delapanpuluh ribu Bang. Gaji Tukang sehari seratus dua puluh ribu."

"Kalau kamu ingin gaji segitu ya kamu kerja saja ditempat lain! Jangan disini! Kerja saja belum. Udah ngurusin gaji! Bentak Jaunar membuat para pekerja lain menoleh.

"Apa yang lain pada melihat? Lanjutkan kerjanya!" Bentak Januar pada tukang dan kuli yang lain.

"Kamu masih niat kerja?" Tanya Januar pada Andre tajam.

"Masih Bang. Masih. Saya niat kerja disini." Jawab Andre.

"Yaudah ikut bapak tukang yang disini!" Ujar Januar kemudian berlalu.

Sepeninggal Januar. Pak tukang dan kawan-kawan yang lain menghampiri sembari berbisik,

"Sabar Cung! Sabar. Itu mandor memang begitu, Songong."

"Padahal saya tanya baik-baik, Main nyolot aja. Ngomong-ngomong kok gajinya murah banget sih Pak?"

"Walahh kamu gak tau, Disini itu Pak kontraktor dan mandor-mandornya itu sudah kayak lintah darat." Jawab Pak Tukang.

"Lhoh lintah darat gimana?" Tanya Andre heran.

"Ya suka memeras keringat kami! Begini rahasianya,"

"Hah? Gimana?" Kernyit Andre penasaran.

"Iya seperti Pak Edwin contohnya. Kan dapat harga mahal dari kliennya. Perjanjiannya disuruh pakai material yang bagus. Pekerja yang banyak biar cepat selesai. Ternyata tidak demikian Bro. Material yang murah, Kualitas rendah dibilang mahal, Kualitas tinggi. Kan dia udah ngambil keuntungan dimaterial. Terus gak cukup sampai situ. Idealnya nih proyek butuh waktu satu tahun dengan jumlah pekerja lima puluh orang perhari. Nah, Itu pekerjanya cuma pakai empat puluh orang perhari dan mau gak mau kita dipacu cepat agar dapat menyelesaikan selama setahun. Kan kitanya harus menggebu-gebu. Gaji pekerja pun lebih rendah dari umumnya. Bayangin perkepala pekerja selisih sepuluhribu. Kalau limapuluh pekerja kali sepuluhribu kan bisa jadi limaratus ribu perhari. Itu dibagi jadi dua, Buat dirinya dan bonus gelap buat Januar dan mandor-mandornya yang lain supaya semangat memacu kerja kita." Jelas Eko, 

Seorang tukang yang sudah bekerjalama di Edwin. Andre menggeleng tak percaya.

"Serius Pak Edwin seperti itu? Gak nyangka loh. Dirumah dia baik, Menurut asisten-asisten rumah tangganya juga baik." Bantah Andre.

"Yang baik itu istrinya. Suka bagi-bagi sama orang tak punya. Suka menolong juga." Kata Pak Tukang bernama Karib itu.

"Iya itu yang blasteran Jepang. Anaknya yang punya PT KITARO itu." Sahut yang lain.

"Btw, Anaknya Pak Edwin itu kayak radak setres ya? Aku denger-denger." Tanya Acep.

"Oh iya betul itu. Kayak autis gitulah. Kena mental." Ucap Eko.

"Wusshh. Anak berkebutuhan khusus coy." Bantah Andre.

"Ya begitulah pokoknya. Gimana mau punya anak normal kalau kelakuannya saja kayak gitu. Menipu, Memeras, Menindas!" Jawab Eko.


baca juga :