Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

KISAH MISTERI BANGKU TUA 1 | intancahya.com

INTANCAHYA MISTERI BANGKU TUA


CERITA HOROR BAGIAN 1 - Pada bagian belakang sekolah. Terdapat sebuah ruang kelas kosong berselimut debu tebal. Atapnya penuh dengan semak belukar yang menjalar. Bila menjelang waktu magrib, Suara tangisan wanita kerap terdengar. Suara  geseran bangku dan meja memecah keheningan. Bangunan tua telah lama tak dipakai itu telah mencuri perhatian banyak khalayak pasca kematian seorang siswi bernama Naura. 

Tragedi tersebut bermula kala kedua orangtuanya bercerai, Naura berubah menjadi pribadi yang dingin. Gadis yang masih duduk di bangku SMA kelas X tersebut terus menerus kalut dalam kesedihan. Terlebih sang ayah dan sang ibunya telah menikah lagi dan sibuk dengan keluarga barunya masing-masing. Kini Naura tinggal bersama Neneknya yang sudah tua bernama Nenek Bieda, Dan Kakeknya bernama Benz yang sudah pikun. 

Sejak itu pula Naura ikut mereka tinggal di asrama tua, Sementara rumah mewah yang ditempati Naura sejak kecil harus dijual untuk dibagi dalam harta gono-gini. Sebentar lagi adalah hari ulang tahun Naura yang ke 17. Sudah hampir lima tahun ia tak merayakan ulang tahunnya bersama kedua orangtuanya. Tibalah hari ini ia datang kerumah ayahnya untuk menyampaikan keinginannya.

"Ayah sedang tidak ada dirumah. Ada apa? Mau minta uang?" Tanya Ibu tiri Naura dengan nada tidak bersahabat.

"Tidak Bu. Naura cuma mau ngundang ayah dihari ulang tahun Naura yang ke tujuh belas. " Jawab Naura.

"Begini ya sayang. Sejujurnya ayah kamu itu sedang mengalami kesempitan ekonomi. Kamu lihat sendiri kan, Rumah saja numpang dirumah ibu. Sekarang ayahmu juga sudah punya anak-anak lagi, Punya lebih banyak tanggunan. Jadi sebenarnya gajinya dia itu kurang banget. Ibu mohon pengertiannya ya. Mengertilah kalau ayahmu tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Juga tidak punya banyak uang untuk melakukan hal-hal yang tidak penting." Cerita Lili sebagai ibu tiri dengan ketus.

"Naura cuma kangen sama Ayah Bu." Kata Naura sembari menitikkan bulir bening dimatanya.

Hal tersebut membuat Lili sedikit meleleh.

"Sudah jangan menangis! Sebentar lagi ayahmu pulang!" Kata Lili gusar.

Satu jam berlalu. Jangankan hidangan, Segelas air putih pun tak disuguhkan oleh sang ibu tiri. Lalu datanglah Marsell, Ayah Naura. Melihat Naura berkunjung, Marsell segera memeluknya erat-erat. Airmata kerinduan Naura tumpah. Lalu mereka berdua duduk diatas shofa.

"Ayah kurang dua minggu lagi Naura ulang tahun. Ayah bisa kan merayakan ulang tahun Naura, Kecil-kecilan saja.."

"Kecil-kecilan itu juga butuh duit!" Sahut Lili dari ruang tengah.

"Hanya ayah, Ibu Lili, Ibu, dan Ayah Hans sama adik-adik." Bisik Naura lirih.

"Tanggal dua puluh kan? Waduh sayang. Maaf ya, Kayaknya Ayah tidak bisa. Ayah ikut rekreasi sama Mama Lily dan kawan-kawannya. Tidak enak, Sudah direncanakan sejak lama. Maaf ya!" Bisik Marshel balik.

Naura mengangguk. Namun hatinya begitu runtuh dan kecewa. Baginya ia sudah kehilangan banyak hal dari ayahnya. Ayahnya sudah dikuasai oleh ibu tirinya.

"Nih ada uang limapuluh ribu. Buat jajan kamu sendiri ya! Jangan buat boros-boros!" Kata Marshel sembari memberi selembar uang limapuluhribu pada Naura.

Tanpa panjang lebar Naura segera berpamitan pulang. Sepanjang jalan ia tak tahan untuk tidak menangis. Bagaimana mungkin dalam setiap bulan, Ayahnya hanya memberinya uang sebesar limapuluh ribu. Naura yang sedang naik bis pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Ibunya diluar kota dengan jarak 5 km dari tempat tinggalnya sekarang. Sesampai disana, Ia berharap diperlakukan dengan hangat.

"Assalamualaikum." Ucap Naura sembari melepas alas kakinya untuk beranjak keteras.

"Cuci kaki dulu! Cuci kaki dulu!" Bentak seorang wanita tua yang merupakan mertua Ibunda Naura dari pernikahannya yang sekarang.

Naura tersenyum. Ia segera membasuh kedua kaki dan tangannya. Sementara ia mendengar percakapan Nenek tiri dan para ipar ibunya yang lengah berbisik-bisik.

"Huh! Ada anak terlantar kesini lagi. Pasti mau minta uangnya anakku!" Ujar Nenek tirinya.

"Eh! Mana boleh! Bilangin sama Hans, Kalau istrinya itu jangan terlalu los sama anaknya. Enak saja adikku kerja susah payah kok malah sibuk ngasih anak orang!" Balas Kakak Hans (ayah tiri Naura)

"Hiyalah! Anak tiri ya sama aja sama anak orang. Kalau Hans sudah tua juga belum tentu anak tirinya peduli." Sahut adik Hans.

Namun Naura tak menghiraukan. Ia sudah berulangkali digunjing seperti itu oleh keluarga ayah tirinya. Naura tetap masuk dan mencium tangan mereka. Terlihat raut wajah tak sumringah dari mereka. Bahkan Nenek tirinya sampai memeletotkan mulutnya. Naura pun dipersilahkan duduk. 

"Kamu kesini tadi disuruh siapa?" Tanya Kakak Hans

"Inisiatif sendiri saja Budhe. Naura kangen sama ibu. Sudah tiga bulan tidak bertemu. Sama mau tengok adik baru Naura disini." Jawab Naura. 

"Eh. Kamu dijatah berapa sama bapak kandungmu?" Tanya adik Hans.

"Tergantung." Jawab Naura menutupi.

"Tergantung kalau ingat. Kalau enggak ya minta ayah tiri saja!" Sindir Nenek tiri Naura.

"Heh! Kok bisa dijatah tergantung itu! Terus kamu dan nenekmu dijatah berapa oleh ibumu?" Tanya adik Hans.

"Memang, Nenek kamu disana udah nggak bisa kerja apa-apa kah?" Timpal pertanyaan dari Kakak Hans.

Pertanyaan tersebut terpotong saat Hans (Ayah tiri Naura) keluar dari bilik tengah.

"Ini ada apa? Ada anak cantik datang kok malah diintrogasi?" Kata Hans kepada ibu dan saudara-saudaranya. Kemudian Naura Salim dengannya.

"Mama masih nenenin adek. Kamu mau ketemu? Ayuk, Ayah antar kedalam!" Ajak Hans yang diikuti oleh Naura.

Sesampai dikamar wajah Naura berseri melihat sosok Ibunya karena rindu. Sesudah menidurkan bayinya. Naura dan ibunya pun berpelukan. 

"Ada apa kesini Nak?" Tanya Nadev. Ibu kandung Naura.

"Kangen Bu." Jawab Naura singkat.

"Tau sendiri Nak, Ibu habis lahiran. Jadi tidak bisa jenguk kamu." Kata Nadev sembari sibuk membereskan kamar.

"Bu. Tanggal dua puluh Naura ulang tahun yang ke tujuh belas. Kita rayain yuk, Kecil-kecilan saja. Cuma sama ayah Hans, Ibuk dan Adek." Kata Naura memelas.

"Kenapa sih gak kamu rayakan dengan Ayahmu saja? Ayah Marshel maksudnya." Tanya Nadev kesal.

"Ayah Marshel tidak bisa Bu. Dia sibuk kerja." Jawab Naura membendung luka.

"Kerja terus gak ingat anaknya! Udah klepek-klepek tuh sama Lili si wanita jalang itu! Kamu juga gitu! Kamu kan tau sendiri Nak, Ibu punya bayi. Ibu juga masih serumah dengan mertua. Rumah pun dekat dengan para ipar. Apa kata mulut mereka kalau kamu minta ulang tahun sama ibuk? Please, Jangan bikin ibukmu ini tambah tertekan!" Cerocos Nadev.

Hans pun ikut bicara,

"Jangan begitulah Dik. Kasihan Naura. Ngapain kamu dengarkan omonongan ibuk, Adek sama Mbak? Toh mereka juga parasit sama aku. Suka ikut campur masalah keuanganku. Ujung-ujungnya juga minta-minta gak jelas gitu. Kita jadi orang yang tegas. Biarlah kita rayakan ulang tahun Naura. Aku menerima kamu juga anakmu!"

BACA JUGA ;



CERITA SELANJUTNYA BAGIAN 2